Press Release Only Available in Bahasa Indonesia 

Pada hari ke-empat perhelatan Jakarta International Literary Festival 2019 digelar dua simposium yang mengusung tema “Melawan Bias” pada pukul 10:30 dan “Selatan Menatap Balik” pada pukul 13:30 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, serta satu talkshow bertajuk “Fiksi dan Kebenaran” pukul 16:00 di Ruang Sastra dan Komunitas, Plaza Teater Besar.

Pada simposium pertama diisi oleh Bejan Matur (Turki), Zainab Priya Dala (India), Saras Dewi (Indonesia) dan moderator Hera Diani mendiskusikan penulis perempuan, bias-bias pembaca, cara menghindari bias dalam sastra, serta karakteristik dan kategori ‘maskulin’ dan ‘feminin’ dalam sastra.

Zainab Priya Dala menyebutkan bahwa menjadi penulis perempuan tidak selalu mengenai identitas gender penulis sebagai perempuan, tapi juga suara yang dipakai dan karakter yang dibuat dalam tulisan yang dipersembahkan ke dunia. ZP Dala juga menekankan bahwa penulis perempuan sering diminta untuk mendekonstruksi identitas mereka sebagai penulis perempuan dan mendiskusikan apa tulisan feminin itu, namun penulis laki-laki tidak pernah diminta untuk mendekonstruksi maskulinitas, dan diskursus seperti ini tidak akan memajukan penulis perempuan. Saras Dewi berpendapat bahwa diskursus ini masih ada karena bias yang memang masih ada, dan akan berhenti ketika kita sudah mencapai kesetaraan dalam sastra.

Menurut Bejan Matur, sastra yang baik adalah sastra yang bisa menawarkan jawaban dan solusi atas masalah dan trauma kehidupan. ZP Dala, penulis yang juga psikolog, berargumen bahwa penulis tidak punya tanggung jawab untuk menawarkan jawaban untuk pembaca. Menulis adalah menulis, ketika penulis sudah mengeluarkan tulisannya, pemaknaan terhadap tulisan tersebut diserahkan pada pembaca. Ia juga menyebutkan bahwa menulis bisa menjadi sebuah proses kreatif yang therapeutic, tetapi ia menghindari berperan sebagai terapis untuk pembaca. Bejan Matur menambahkan bahwa menulis adalah aksi politis, karena tulisan bisa memberikan perspektif baru dan memiliki kekuatan untuk mengubah pembacanya.

Pada simposium kedua di hari ini, Akhil Katyal (India) dalam presentasinya mengatakan bahwa upaya untuk melepaskan pola pikir yang berpusat pada Utara akan menjadi sebuah sejarah panjang sendiri. Upaya ini harus diiringi dengan perubahan materi dalam segi sumber daya, sumber keuangan, dan pola arus kekuasaan. Akhil juga membahas geografi keterhubungan, baik yang tua maupun baru, antara Asia dan Afrika dan antara Asia Selatan dan Asia Tenggara, yang sering diabaikan ketika kosmopolitanisme dikira hanya berkembang di Eropa dan Amerika. Geografi keterhubungan antara negara-negara Selatan yang telah lama ada perlu ditemukan kembali, termasuk untuk impor budaya, dan bagaimana hidup bangsa negara-negara Selatan sangat saling terikat dan saling tertarik dalam karya satu sama lain.

Prabda Yoon (Thailand) menceritakan tentang kelangkaan sastra Thailand dalam penerjemahan. Ia menganggap bahwa Kementerian Kebudayaan Thailand sering menafsirkan kata “budaya” dalam namanya sebagai “tradisi” dan lebih suka menekankan pelestarian budaya yang lama daripada memberikan budaya yang baru kesempatan untuk berkembang di tempat lain. Tanpa banyak dukungan dan kurangnya rasa hormat dari pemerintah, sastra Thailand kontemporer pada umumnya bertahan hanya dengan kemandirian dan keberuntungan. Di sisi lain, ada masalah lain ketika perhatian datang: ketika kita berdebat tentang minat ‘internasional’ atau ‘global’ dalam sastra, biasanya kita menyiratkan pengakuan atau penerimaan pertama dan terutama oleh inteligensia bahasa Inggris, khususnya di AS. Seringkali sebuah karya dinilai memiliki daya tarik global bukan berdasarkan pada bagaimana karya dapat menceritakan tanah airnya kepada orang asing, tetapi seberapa ‘bersahabat’ karya dengan para pembaca potensial yang diharapkan, yaitu pasar Barat.

Zen Hae membacakan esainya yang membahas sastra sebagai perayaan perbedaan dan pluralisme. Membaca bukan lagi proyek kultural untuk menemukan kembali kekuatan estetik, tetapi kebenaran politik di dalam sebuah karya sastra. Kita harus membongkar relasi kuasa yang timpang di balik produksi karya sastra dan produk budaya umumnya. Jika selama ini kita memuliakan karya sastra dari kawasan Eropa dan Amerika Utara dan menjadikan mereka sebagai pusat penilaian kita terhadap sastra dunia, kini perhatian mestilah kita geser kepada karya-karya sastra dari wilayah-wilayah lain yang menjadi antipoda dari pusat-pusat itu.

Dalam talkshow sore santai di Ruang Sastra dan Komunitas, Plaza Teater Besar yang dipandu Linda Christanty, dengan menghadirkan pembicara Shenaz Patel (Mauritius) dan Faisal Tehrani (Malaysia), menceritakan bagaimana mereka menulis tentang komunitas-komunitas yang jarang didengar suaranya. Shenaz Patel menulis tentang orang-orang Chagos dan Faisal Tehrani menulis tentang kelompok Shia, LGBTIQ, dan kelompok-kelompok lain yang termarjinalkan di Malaysia.

Shenaz menyatakan bahwa ia menulis tidak hanya untuk membahas aspek geopolitis dari cerita yang ingin ia sampaikan, tetapi juga untuk menyampaikan pengalaman dan perasaan dari orang-orang dalam cerita tersebut. Shenaz, yang juga seorang jurnalis, tidak menulis untuk menyenangkan pembaca, ia menulis karena tidak puas dengan keadaan dunia yang sekarang dan menulis adalah salah satu caranya untuk membangun dunia yang ia inginkan. Faisal bercerita tentang tujuh bukunya yang dilarang untuk beredar di Malaysia akibat aktivitasnya dalam memperjuangkan HAM. Ia juga menyebutkan kurangnya solidaritas dari sesama penulis Malaysia karena ketakutan mereka atas risiko dipenjara karena melawan fatwa. Beberapa komunitas yang menawarkan dukungan kepada Faisal adalah komunitas penulis dari Singapura, serta penerbit indie Malaysia yang dibangun oleh generasi muda .

 Linda bertanya kepada kedua penulis bagaimana mengatasi fake news dan hoaks yang cepat sekali beredar di media sosial. Shenaz mengingatkan penonton untuk selalu cek akurasi dari berita, dan Faisal menyarankan untuk selalu menginterogasi siapa yang diuntungkan dan dirugikan dari penyebaran berita tersebut, dan untuk melihat dari perspektif pihak yang teropresi.

Teater Satu Lampung Pentas di JILF 2019

Terbentuk pada 1996 oleh Iswadi Pratama dan Imas Sobariah, Teater Satu Lampung adalah salah satu komunitas teater yang konsisten menghasilkan karya seni peran dengan melakukan pementasan-pementasan di seluruh Indonesia bahkan luar negeri, serta membuat workshop seputar teater. Pada 1999- 2000, dengan dukungan USAID, Teater Satu Lampung berhasil melakukan 50 kali pertunjukan teater rakyat dan modern di 50 kota di Provinsi Lampung. Di tahun 2017, Teater Satu Lampung melakukan pertunjukan keliling sebanyak 38 kali di Australia selama dua bulan.

Teater Satu Lampung mementaskan lakon “Jalan Yang Tak Ditempuh” yang disutradarai oleh Iswadi Pratama di Teater Kecil, TIM dalam rangka memeriahkan Ruang Sastra dan Komunitas JILF.

Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019 

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang para pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah. 

Festival sastra ini diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, talkshow bersama para penulis, pameran “Bacaan Liar”, laboratorium ekosistem sastra, pasar hak cipta, pasar buku, dan kegiatan komunitas.

Jakarta International Literary Festival 2019 terselenggara terutama berkat dukungan Pemda DKI Jakarta, Indonesiana – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bank BRI, Goethe Institut, Jakpro, Merdeka Coppergold, dan Kedutaan Besar Amerika. Festival ini juga didukung Asumsi.co, Beritagar.id, KBR, Harian Kompas, Magdalene.co, Power FM, Koran Tempo, Tempo.co, dan The Conversation sebagai rekanan media, serta sahabat festival Csutoras & Liando dan Yajugaya.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Para Pembicara:

Dapat dilihat di website kami: https://www.jilf.id/id/penulis/ 

 

Narahubung:

Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
E: media@jilf.id
T: 0812-9817-7567

Press Release only available in Bahasa Indonesia

Pada hari pertamanya, Jakarta International Literary Festival (JILF) menggelar dua simposium dan satu talkshow yang membahas aneka “pagar” dalam dunia kesusastraan dan penerbitan. Pagar pertama berupa jebakan pengulangan tema dan komodifikasi yang dibahas dalam simposium bertajuk “Lepas dari Komodifikasi” pukul 10:30 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, “pagar” kedua adalah peran bahasa Inggris dan proses kuratorial yang menyertainya yang dibahas dalam simposium “Kuratorial yang Tak Nampak” pukul 13:30, dan sebuah perbincangan santai bersama dua penulis yang mengeksplorasi tema lokal yang bertajuk “Cerita-cerita dari Sekitar” pukul 16:00.

Dalam “Lepas dari Komodifikasi,” Linda Christanty menyebut persepsi, bias, prasangka, bisnis dan politik turut berperan dan menentukan laik-tidaknya sebuah karya terbit. Oliver Precht dosen filsafat dan sastra di University of Munich menyebut interpretasi terus-menerus dan framing—selain marketing, bisa jadi perangkat penting untuk “menolak” determinasi pasar yang menghendaki karya yang itu-itu saja. Laura Prinsloo ketua Komite Buku Nasional Indonesia menyebut ilustrasi buku menjadi jembatan penting untuk menarik agen atau penerbit luar. Yang tak kalah penting katanya adalah peran agen sastra yang mampu menemukan “karakter” buku dan menghubungkannya dengan pasar yang tepat.

Shenaz Patel penulis Mauritius menekankan pentingnya eksplorasi penulis. Dia sendiri “nekat” mulai menulis dalam bahasa Kreol sebuah bahasa yang mengalami marginalisasi di Mauritius. Patel menyebut persilangan bahasa ini penting untuk menciptakan kembali “dunia” baru dan pengembangan bahasa itu sendiri.

Dalam “Kuratorial yang Tak Nampak” Stephanos Stephanides, penyair dan esais dari Cyprus, memperkenalkan istilah kosmopoetik sebagai upaya penulis dan penerjemah untuk keluar dari determinasi bahasa. Kosmopoetik, istilah yang dikaitkan dengan kosmopolitan semacam adalah upaya untuk menciptakan kemungkinan bentuk-bentuk baru melampaui apa yang sudah ada dan mapan. Sementara penulis muda Clarissa Goenawan mengatakan penguasaan bahasa Inggris bukanlah penentu kualitas karya. Otentisitas sebuah karya katanya juga bisa dicapai lewat pengalaman pribadi juga riset mendalam

Laurie Callahan, Redaktur Pelaksana di New Directions Publishing Corp—yang menerbitkan karya Eka Kurniawan dalam bahasa Inggris—menyatakan Bahasa Inggris katanya lebih bersifat sebagai jembatan. Sepengalamannya, lewat bahasa Inggrislah justru sebuah karya bisa menjangkau lebih banyak orang. Dia mencontohkan Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan yang setelah diterjemahkan ke bahasa Inggris telah dialihbahasakan ke lebih dari 20 bahasa.

Selanjutnya, dalam bincang-bincang santai dua penulis Legodile Saganabeng (Botswana) dan Azhari Aiyub (Indonesia) bersemangat menguliti apa itu lokalitas dalam talkshow bertajuk “Cerita-Cerita dari Sekitar.” Azhari menekankan apa yang dimaksud dengan lokalitas sebenarnya amat cair dan tidak relevan. Bagi orang Aceh, Jakarta itu lokal, demikian pula sebaliknya. Seorang penulis katanya tidak boleh membatasi topik yang dia tulis, termasuk dalam hal lokalitas.

Legodile menafsirkan cerita lokal dari lingkungan sekitar sebagai karya-karya yang membahas tentang identitas. Karya lokal adalah karya-karya di mana pembaca bisa terhubung dengan apa yang mereka baca. Dalam konteks Botswana kata dia, konteks lokal juga penting sebab perpustakaan-perpustakaan sangat sedikit menyediakan karya dari penulis lokal, apalagi yang bisa membangun kebanggaan terhadap kebudayaan mereka. Penulis lokal hanya sedikit dan perusahaan penerbit buku hanya menerbitkan buku-buku pelajaran saja. Karena itu karya lokal adalah karya yang mampu menjawab tantangan-tantangan tersebut.

Pada pukul 18:30 dilaksanakan Bincang Penulis Sastra dengan narasumber Budi Darma, Azhari Aiyub, dan Clarissa Goenawan (Singapore). Dilanjutkan dengan agenda  Pembacaan Karya, dan musik oleh Danilla Riyadi.

Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang para pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah.

Festival sastra ini diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, talkshow bersama para penulis, pameran “Bacaan Liar”, laboratorium ekosistem sastra, pasar hak cipta, pasar buku, dan kegiatan komunitas.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Para Pembicara:
Dapat dilihat di website kami: https://www.jilf.id/id/penulis/

 

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
Email: media@jilf.id
Telp: 0812-9817-7567

Press Release only available in Bahasa Indonesia

Pada hari keduanya, Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 menggelar dua simposium dan satu talkshow yang membahas aneka “pagar” dalam dunia kesusastraan dan penerbitan. Simposium pertama diadakan pada pukul 10:30 di Teater Kecil, TIM yang membicarakan “Ketidaksetaraan 4.0” yang kerap terjadi. Simposium kedua bertajuk “Membaca Satu Sama Lain” pukul 13:30, dan sebuah perbincangan santai bersama dua penulis yang mengeksplorasi pengaruh identitas penulis yang cair (queer) terhadap penulisan dan bahasa yang digunakan.

Pada simposium “Ketidaksetaraan 4.0” Eliza Victoria dari Filipina mempresentasikan bahwa internet bisa menjadi salah satu alat untuk mendorong kesetaraan dalam dunia sastra: media sosial mempermudah akses ke komunitas penulis, akses ke informasi mengenai industri penerbitan, dan juga mempermudah penulis untuk mengirimkan tulisannya ke berbagai publikasi. Internet bisa menjembatani jarak dan batas geografis, namun internet juga adalah bagian dari dunia dan masih mempunyai struktur kekuasaan dan ketidaksetaraan yang sama. Tantangan dalam dunia 4.0 adalah bagaimana penulis bisa menembus pasar internasional tanpa menyembunyikan atau mengubah identitas penulis agar lebih mudah diterima oleh pasar Barat.

Di Indonesia, menurut Anya Rompas, komunitas sastra terutama di Jakarta masih didominasi oleh gatekeepers. Para elit sastra ini, di awal naiknya popularitas internet di awal 2000, menganggap sastra yang disirkulasi di internet sebagai ‘tong sampah’, karya-karya yang ditolak oleh media cetak — media yang dianggap superior. Anya mengharapkan segala macam karya bisa hadir berdampingan dalam dunia sastra dan merepresentasikan berbagai macam estetika dan ideologi, dan juga terbuka terhadap diskusi dan menerima kritik.

Amir dan perusahaan penerbitannya mengambil risiko untuk menerbitkan penulis-penulis yang sebelumnya ditolak oleh penerbit konvensional. Ia menerbitkan buku-buku bergenre thriller dan horor ketika kebanyakan sastra Malaysia didominasi oleh buku-buku bergenre romansa. Strategi pemasaran Amir adalah dengan mendekatkan diri ke pembaca, yaitu dengan mengikuti kembali semua followers Twitter akun penerbitannya dan membaca feed untuk mengetahui apa yang pembaca pikirkan. Ia merasa terkadang penerbit terlalu berfokus kepada pembaca internasional imajiner dan melupakan bahwa banyak pembaca di sekitar yang belum dijangkau.

Sastra Asia Tenggara, terutama Malay-Indo, tetap menjadi marjinal dalam sastra dunia meskipun memiliki jumlah pembaca yang banyak. Pada simposium kedua hari ini bertajuk “Membaca Satu Sama Lain” Faisal Tehrani membicarakan intellectual imperialism, yaitu ketika penulis mencoba membentuk karyanya untuk meniru atau membuat kagum kelompok lain yang dianggap superior, yaitu pasar Barat. Padahal, dominasi kerangka kreativitas Barat dalam komunitas sastra justru menghambat kreativitas penulis, dan maka dari itu penting untuk mempertahankan karakteristik, perspektif, dan politik khas dari sastra Malay-Indo.

Momtaza Mehri mempresentasikan Diasporic Entanglement – A Poetics of Relation yang membicarakan identitas dan karyanya sebagai penulis diaspora yang keturunan Somali dan lahir di London. Mehri mempertanyakan siapa yang berhak menjadi penulis dan pembaca dalam sastra dunia, dan menggarisbawahi bahwa tidak ada suara singular yang bisa merepresentasikan Somalia karena keberagaman pengalaman yang begitu luas. Menjadi penulis diaspora adalah seperti membuat karya yang berasal dari negara imajiner yang menyatukan berbagai karakteristik dari dua dunia, yaitu kampung halaman penulis dan tempat penulis tumbuh dan berkembang.

Aan Mansyur mengusulkan beberapa cara yang bisa memudahkan komunitas sastra di Indonesia dan Malaysia untuk menikmati karya satu sama lain: 1) Membuat media bersama antara dua negara atau lebih, seperti New Naratif, dan media ini bisa dijalankan oleh kelompok yang rutin membuat acara sastra atau penerbit independen. 2) Menghadirkan lebih banyak penulis Malaysia di acara-acara sastra Indonesia. 3) Mengangkat martabat penerjemah, misalnya memberikan penerjemah ruang dan kuasa sebagai kurator. 4) Penerbitan silang. Aan juga menekankan bahwa ada tangga yang perlu kita robohkan sebelum kita merobohkan pagar—hierarki dalam sastra Indonesia sendiri perlu diruntuhkan untuk membangun lingkungan sastra yang lebih terbuka dan lebih setara.

Identitas Cair dan Penulisan

Hendri Yulius (Indonesia) membuka talkshow dengan menyatakan perlunya mendefinisikan queerness di luar konteks orientasi seksual dan identitas gender. Menurut Hendri, Bahasa Indonesia yang tidak bergender bisa dijadikan medium yang baik untuk menjelajahi queerness dan menantang konstruksi identitas yang kaku.

Hendri, Akhil Katyal (India), dan Hetih Rusli (Indonesia) juga mendiskusikan karakteristik-karakteristik tulisan queer. Semua emosi bersifat universal dan tidak ada emosi atau perasaan yang dirasakan hanya oleh orang-orang queer. Namun, di lingkungan yang tidak ramah terhadap orang-orang queer, alienasi dan kesepian yang dirasakan oleh mereka akan terasa lebih intens.

Hendri menyebutkan bahwa tugas terbesar penulis queer Indonesia adalah menemukan cara untuk mengambil kembali dan melokalisasi istilah-istilah yang berkaitan dengan queerness — seperti queer, LGBT, dan istilah lain yang biasa digunakan sebagai ejekan, seperti banci atau bencong. Penulis queer juga sering kali terbebani dengan ekspektasi untuk merepresentasikan seluruh komunitas yang kemudian menjadi hambatan dalam proses kreatifnya. Akhil Katyal menambahkan mengenai pentingnya menulis dalam kapasitas sebagai pendengar. Selain itu juga pentingnya menulis mengenai hal-hal sesuai pengetahuan dan pengalaman kita, dan tidak mengambil peran atau suara orang lain yang tidak berbagi identitas dengan kita.

Kabar dari Book Rights Market JILF 2019

Salah satu program utama JILF adalah Book Rights Market atau Pasar Hak Cipta Buku yang mempertemukan penerbit-penerbit dari berbagai belahan dunia untuk bertukar wawasan dan mengadakan kerja sama dalam bentuk jual-beli hak cipta buku. Hari ini dua karya penulis Indonesia yang berjudul “Negara 5 Menara” karya Ahmad Fuadi dan “Saman” karya Ayu Utami-yang juga pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998—dibeli hak ciptanya oleh Prozart Media Publishing House, sebuah penerbit yang berasal dari Macedonia. Siang ini (22/8) telah dilangsungkan penandatanganan antara Penerbit Gramedia—yang menaungi dua karya tersebut—dengan Macedonia yang diwakili oleh Dejan Trajkoski (Direktur).

Kabar dari Ruang Sastra dan Komunitas

Komite JILF 2019 menginisiasi program Ruang Sastra dan Komunitas bukan hanya sebagai ‘ruang’ dalam artian meramu berbagai rangkaian acara, tetapi juga sadar akan kebutuhan ’ruang’ sebagai tempat fisik interaksi kultural dan wacana publik.

JILF 2019 bekerja sama dengan Laszlo Csutoras dan Melissa Liando membangun Ruang Sastra dan Komunitas berupa area ruang bundar di Plaza Teater Besar dengan tafsiran makna “Pagar” dalam tema besar JILF 2019 tahun ini. Malam ini Ruang Sastra dan Komunitas dimerahkan oleh penampilan musik apik oleh Sal Priadi.

Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang para pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah.

Festival sastra ini diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, talkshow bersama para penulis, pameran “Bacaan Liar”, laboratorium ekosistem sastra, pasar hak cipta, pasar buku, dan kegiatan komunitas.

Jakarta International Literary Festival 2019 terselenggara terutama berkat dukungan Pemda DKI Jakarta, Indonesiana – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bank BRI, Goethe Institut, Jakpro, Merdeka Coppergold, dan Kedutaan Besar Amerika. Festival ini juga didukung Asumsi.co, Beritagar.id, KBR, Harian Kompas, Magdalene.co, Power FM, Koran Tempo, Tempo.co, dan The Conversation sebagai rekanan media, serta sahabat festival Csutoras & Liando dan Yajugaya.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Para Pembicara:
Dapat dilihat di website kami: https://www.jilf.id/id/penulis/ 

 

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
Email: media@jilf.id
Telp: 0812-9817-7567

Press Release only available in Bahasa Indonesia 

Pada hari terakhir perhelatan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 digelar dua simposium yang mengusung tema “Dilema Tema Umum Selatan” pada pukul 10:30 dan “Perlukah Kanon Selatan” pada pukul 13:30 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Serta satu talkshow bertajuk “Sastra” pukul 16:00 di Ruang Sastra dan Komunitas, Plaza Teater Besar.

Intan Paramaditha (Indonesia), Legodile Seganabeng (Bostwana), Sherlene Teo (Singapura) mempresentasikan makalah masing-masing dalam simposium bertajuk “Dilema Tema Umum Selatan”, dimoderatori oleh Nukila Amal. 

Intan, yang mendapat giliran presentasi pertama, bicara tentang sastra global, makna kosmopolitanisme, dan bagaimana kesenjangan suara dan keterwakilan tetap terjadi dalam konstelasi sastra dan perbukuan dunia hari ini. Legodile Seganabeng, yang maju berikutnya, menyajikan pengalamannya sebagai pengarang di Botswana di mana tradisi penerbitan belum berkembang jauh. Sastra sulit diterbitkan dan seringkali pengarang harus mengorbankan kreativitas dan orisinalitasnya agar dapat diterbitkan. Tema-tema yang diangkat seringkali mempertimbangkan apa yang “seksi” bagi mata orang luar Botswana, bukan yang ingin dibicarakan oleh masyarakat Botswana itu sendiri. 

Terakhir, Sherlene Teo, pengarang novel “Ponti” yang telah tinggal selama 13 di Inggris, berbagi tentang bagaimana identitasnya terkadang menjadi beban dalam berkreasi, dengan adanya asumsi atau ekspektasi tentang dirinya sebagai warga kelahiran Asia Tenggara. Di sisi lain, posisinya yang jauh dari tanah kelahiran menciptakan jarak yang memudahkannya untuk berefleksi secara lebih mendalam. 

Hilmar Farid (Indonesia), Ramon Guillermo (Filipina), dan Adania Shibili (Palestina) menjelajahi topik kanon Selatan. Dipandu Stephanos Stepanides (Cyprus) sebagai moderator, simposium ini menjadi diskusi yang hidup tentang kemungkinan-kemungkinan akan kanon Selatan dan bagaimana komunitas sastra Selatan menyikapinya.

Ramon Guillermo mengawali simposium dengan pijakan sejarah kokoh berupa grafis yang menggambarkan arus penerjemahan karya-karya Asia Tenggara di kota-kota besar dunia seperti Moskow, Paris, dan Tokyo. Grafis ini menjadi latar yang berguna saat kemudian gagasan tentang perlunya kanon Selatan dilontarkan oleh Hilmar Farid, yang mempertimbangkan cita-cita para pendiri bangsa sesama kawasan terjajah baru saja merdeka dan beraliansi dalam Konferensi Asia-Afrika 1955.

Namun, Adania Shibili membuat audiens tertegun dengan presentasinya tentang bagaimana penjajahan Israel atas Palestina juga mencakup penyitaan dan penghapusan karya-karya sastra Palestina, lewat proyek-proyek National Library of Israel. Pada titik ini, Adania seperti mengajak penonton untuk membayangkan bagaimana berbicara tentang kanon Selatan saat bangsa Palestina tidak dapat mengakses khazanah sastra dan budayanya sendiri. Salah satu tanggapan, dari Ramon, mengajukan tawaran menarik untuk menguatkan infrastruktur literasi Selatan, tepatnya perpustakaan, sehingga pengetahuan dapat diakses seluas-luasnya. 

Pada akhirnya, diskusi berakhir dengan pemahaman bersama bahwa pembicaraan kanon Selatan mesti mengakomodasi narasi dan suara yang plural, kekayaan khazanah dunia, dan platform bagi representasi warga dunia yang lebih setara. 

Di talkshow mengenai Sastra Boga, sejarawan budaya Timbul Haryono dan penulis sejarah boga Fadly Rahman mengajak hadirin menelusuri makanan lewat literatur, khususnya catatan para sejarawan dan pengelana zaman dulu. Dipandu moderator Ade Putri, bincang-bincang ini membuka cakrawala pengetahuan tentang bagaimana makanan sebagai aspek budaya dapat menjadi cermin suatu masyarakat dan zaman. 

Diawali  dengan cerita keduanya tentang asal kata “boga” dan “kuliner”, pembicaraan segera berkembang ke berbagai pengaruh luar hari ini dalam masakan nusantara, misalnya vrijkadel, yang dalam masyarakat Belanda terbuat dari daging babi, tapi di Indonesia menjadi perkedel yang terbuat dari macam-macam bahan. Selain perubahan pada bahan, fungsi makanan pun dalam masyarakat kita akhirnya juga beralih. Timbul Haryono mengungkapkan fungsi sehari-hari, fungsi sosial, dan fungsi ritual dalam masyarakat kita zaman dahulu yang kini sudah tidak lagi berlaku.

Lewat perbincangan ini, kemudian terkuak pula berbagai kreativitas, kebijaksanaan, dan kekayaan nusantara yang tersimpan dalam masakan. Misalnya, bagaimana masyarakat kita konon mengatasi minimnya jumlah daging yang terjangkau pada masa penjajahan dengan berkreasi menggunakan kaki sapi, kepala kambing, jerohan, dan sebagainya; bagaimana keberlangsungan lingkungan hidup terjaga lewat kebutuhan makan yang secukupnya; dan bagaimana tradisi makan bersama menjadi kunci ikatan sosial yang harmonis. 

Pada malam penutupan festival sastra internasional ini, acara di pusatkan di Ruang Sastra dan Komunitas—yang bangunannya dirancang oleh Laszlo Csutoras dan Melissa Liando. Yusi Avianto Pareanom menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah terlibat, dan penonton yang telah hadir memeriahkan festival selama lima hari ke belakang. “Sampai jumpa pada perhelatan JILF tahun depan,” tutupnya saat memberikan ucapan penutupan.

Di area ruang bundar yang dibangun di Plaza Teater Besar, TIM itu diadakan Malam pembacaan karya oleh Momtaza Mehri (Somalia), Intan Paramaditha, dan Legodile Seganabeng. Setelahnya, program AkhirPekan@MuseumNasional yang biasa dipentaskan di Museum Nasional Indonesia diboyong ke TIM. Mereka memainkan lakon “Asam di Laut, Garam di Gunung” yang mengocok perut pentonton yang memenuhi ruang bundar tersebut. Setelahnya dilanjutkan dengan penampilan musik Nona Ria, dan ruru radio berkaroke.


Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019 

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang para pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah. 

Festival sastra ini diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, talkshow bersama para penulis, pameran “Bacaan Liar”, laboratorium ekosistem sastra, pasar hak cipta, pasar buku, dan kegiatan komunitas.

Jakarta International Literary Festival 2019 terselenggara terutama berkat dukungan Pemda DKI Jakarta, Indonesiana – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bank BRI, Goethe Institut, Jakpro, Merdeka Coppergold, dan Kedutaan Besar Amerika. Festival ini juga didukung Asumsi.co, Beritagar.id, KBR, Harian Kompas, Magdalene.co, Power FM, Koran Tempo, Tempo.co, dan The Conversation sebagai rekanan media, serta sahabat festival Csutoras & Liando dan Yajugaya.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Para Pembicara:

Dapat dilihat di website kami: https://www.jilf.id/id/penulis/ 

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
E: media@jilf.id
T: 0812-9817-7567

Press Release only available in Bahasa Indonesia

Jakarta, 13 Juli 2019 – Masih dalam rangka menjelang perhelatan festival sastra bertaraf internasional—Jakarta International Literary Festival 2019—Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) hari ini mengadakan diskusi pra-festival yang ke-lima. Diskusi pra-festival kali ini mengangkat tema “Fiksi dalam Fakta” yang diadakan di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki. Diskusi ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Andina Dwifatma (Dosen dan Editor) dan Roy Thaniago (Pendiri Remotivi), serta dimoderatori oleh Linda Christanty (Anggota Komite Sastra DKJ).

“Jakarta International Literary Festival merupakan festival sastra pertama kali yang disokong oleh Pemda DKI Jakarta. Semangat JILF 2019 ini meminjam semangat Asia-Afrika, nantinya antar negara selatan-selatan diharapkan bisa saling membaca karya sastra,” ujar Yusi Avianto Pareanom.

Diskusi “Fiksi dalam Fakta” hadir untuk membicarakan mengenai penyebaran hoaks yang terorganisir dan batasan-batasan antara fiksi dan fakta di era paskakebenaran ini. Roy Thaniago mengemukakan tentang hoaks, media dan kekuasaan. Di satu sisi, hoaks memiliki dampak negatif dan merugikan, tapi di lain pihak dapat juga dilihat sebagai salah satu bentuk resistensi terhadap wacana arus utama. Istilah ‘pasca-kebenaran’ (post-truth) yang selama ini populer dan dipopulerkan sebenarnya tidak mewakili apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakat. Orang-orang ternyata ingin mengetahui kebenaran, tapi mereka tidak memperoleh sumber yang dipercaya. Ketika jurnalisme lebih melayani kepentingan elite, masyarakat akan mencari kebenaran dengan cara mereka sendiri, termasuk melalui media sosial dan sumber-sumber lain. Sirkulasi informasi atau berita yang belum tentu benar pun tak dapat dihindari. Terjadi krisis kepercayaan publik terhadap pers atau media sekarang ini, yang mungkin lebih tepat digambarkan sebagai situasi ‘pasca-jurnalisme’. Media diharapkan mampu meraih kembali kepercayaan publik.

“Hoaks itu berfungsi untuk memanipulasi kesadaran kita—mirip seperti placebo—sehingga pada akhirnya kita percaya bahwa itu benar,” ungkap Roy. “Dahulu pemerintah dan jurnalisme adalah gate-keeper kebenaran. Sekarang, masyarakat bisa berperan sebagai gate-keeper juga, hal ini sejalan dengan perkembangan teknologi. Maka muncullah istilah jurnalisme warga. Hal ini terjadi karena kita memasuki era post-journalism. Di mana terjadi pergeseran otoritas dalam memberikan fakta atau hoaks ke publik,” lanjut Roy Thaniago.

Berita hoaks berbeda dengan fiksi atau cerita rekaan dalam karya sastra. Fiksi adalah dunia rekaan namun di dalamnya terdapat kebenaran yang dapat membawa pembaca merefleksikan kehidupan. Sementara, berita hoaks yang adalah rekaan, dipercayai sebagai kebenaran oleh sejumlah pembaca, yang lebih banyak dari pembaca fiksi.

“Batasan antara fakta dengan fiksi jelas dan kita tidak perlu bingung atas batasan-batasan itu. Batasan fakta adalah kenyataan yang bisa dideskripsikan 5W1H. Nah, kalau batas fiksi ada di imajinasi pembaca dan penulisnya,” ujar Andina Dwifatma.

Andina Dwifatma membahas tentang fakta dan karya sastra dengan mengisahkan bagaimana sebuah berita bohong tentang seseorang yang mengeliling dunia selama 3 hari dengan sebuah balon udara yang telah menginspirasi sastrawan Amerika akhir abad ke-19, Edgar Allan Poe untuk menulis cerita, The Balloon Hoax, dan lalu menginspirasi sastrawan Perancis, Jules Verne, untuk menulis novel Eighty Days Around the World.  Dalam penulisan fiksi, fakta dan imajinasi sah untuk berbaur dan fakta dapat diseleksi demi mencapai efek tertentu. Kebalikannya, dalam jurnalisme, fakta adalah suci dan tak boleh ada setitik fiksi pun di dalamnya.  Fiksi juga bertujuan membangkitkan empati, bukan sikap kritis.

“Fiksi tidak bisa dan tidak perlu melawan hoaks. Karena tugas fiksi adalah menumbuhkan empati, bukan mendorong orang untuk berpikir kritis,” lanjut Andina.

Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang beberapa pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah.

Festival sastra ini akan diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, pameran, lab ekosistem sastra, diskusi bacaan alternatif “Bacaan Liar”,  pasar hak cipta, dan Jakarta Award.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Pembicara Diskusi Pra-Festival #05

Andina Dwifatma adalah penulis sastra Indonesia dengan novel debutnya berjudul Semusim, dan semusim lagi (2013). Ia mengajar di Program Studi Komunikasi, Universitas Katolik Atma Jaya Indonesia. Sekarang dia juga aktif di Panajournal.com sebagai Redaktur Pelaksana.

Roy Thaniago aktif menulis dan meneliti hal seputar media, budaya, dan masyarakat. Ia mendirikan Remotivi pada 2010 dan menjadi direktur hingga 2015. Studi masternya diselesaikan di Lund University, Swedia pada bidang Kajian Media dan Komunikasi. Ia saat ini mengajar di Universitas Multimedia Nusantara. 

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
Email: media@jilf.id
Telp: 0812-9817-7567

 

Press Release only available in Bahasa Indonesia

Jakarta, 29 Juni 2019 – Masih dalam rangka menjelang perhelatan festival sastra bertaraf internasional—Jakarta International Literary Festival 2019—Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) hari ini mengadakan diskusi pra-festival yang ke-empat. Diskusi pra-festival kali ini mengangkat tema “Menjual (Sastra) Indonesia” yang diadakan di Kios Ojo Keos, Lebak Bulus. Diskusi ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Mario F. Lawi (Jurnalis dan Penulis) dan Bernando J. Sujibto (Akademisi), serta dimoderatori oleh Ni Made Purnamasari (Penulis).

“Jakarta International Literary Festival 2019 ini merupakan yang pertama diadakan oleh Komite Sastra DKJ, tapi saya yakin bukan yang terakhir. Semoga dengan festival sastra ini, para pelaku sastra di negara-negara selatan bisa saling membaca karya antar negara,” ujar Yusi Avianto Pareanom (Direktur Festival JILF 2019 dan Ketua Komite Sastra DKJ).

Diskusi “Menjual (Sastra) Indonesia” mencoba memberikan pandangan mengenai mengapa kurasi karya tidak seharusnya dibatasi pada muatan lokalnya saja. Dua pembicara juga berbagi pendapat mengenai cara membuka kanal-kanal bagi karya sastra untuk masuk ke dalam laku penerjemahan bahasa selain bahasa Inggris.

“Menurut saya, langkah pertama yang tepat adalah membeli karya sastra—menerjemahkan khazanah-khazanah sastra di luar bahasa Inggris itu. Saya belajar dari beberapa kasus, terutama saya belajar ini dari Turki,” ujar Bernando J. Sujibto.

Bernando juga mengutarakan tiga kelemahan sastra yang ada di Indonesia, yaitu mengenai isu penerjemah dan jaringan. “Pertama, upaya menjual karya sastra Indonesia ke negara-negara di luar Inggris terhambat oleh minimnya sumber daya dan kemampuan penerjemah terkait dengan bahasa-bahasa asing di luar Inggris. Kedua, jaringan penerjemahan dan perbukuan ke berbagai negara di luar Inggris harus diakui masih lemah. Dan yang ketiga, belum adanya sekolah penerjemah yang bertujuan untuk mencetak penerjemah dari bahasa Indonesia ke bahasa bersangkutan,” lanjut Bernando.

Mario F. Lawi menceritakan pengalamannya dalam menerjemahkan karya-karya sastra Eropa, Inggris, dan Latin Klasik. “Dalam khazanah Indonesia, karya seperti puisi-puisi Catullus dan Sulpicia adalah asing dalam sejumlah hal. Misalnya, karena ditulis dalam bahasa yang dianggap mati dan dihasilkan dua ribuan tahun yang lalu, tidak dianggap penting karena tidak secara langsung berkaitan dengan tradisi kesusastraan Indonesia,” ujar Mario.

Namun, Mario tidak menyinggung lebih jauh mengenai persoalan jual-menjual sastra Indonesia ke pembaca internasional. Karena dalam perdebatan industri perbukuan internasional sering dipersempit menjadi wilayah para pembaca berbahas Inggris saja. Ia mengamini pendapat Bernando mengenai penerjemahan karya-karya di luar Inggris ke dalam khazanah Indonesia perlu diusahakan, termasuk karya-karya yang lebih tua dari bahasa apa pun.

Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang beberapa pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah.

Festival sastra ini akan diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, pameran, lab ekosistem sastra, diskusi bacaan alternatif “Bacaan Liar”,  pasar hak cipta, dan Jakarta Award.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Pembicara Diskusi Pra-Festival #04

Mario F. Lawi adalah penulis di media online yang juga penulis sastra muda berbakat. Ia aktif di Komuitas Sastra Dusun Flobamora, Kupang. Mario menulis kumpulan puisi yang diterbitkan sejak 2013. Salah satu karyanya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Ia juga penerjemah karya-karya sastra berbahasa Italia, Inggris, dan Latin Klasik. Dua karyanya masuk dalam longlist Khatulistiwa Literary Award (2014) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (2016).

Bernando J. Sujibto adalah dosen Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga yang telah banyak menulis dan berkecimpung dalam karya-karya yang mengangkat tema tentang Turki dan Islam popular yang dimulai saat ia mendapat beasiswa S2 di Selcuk University, Turki. 
Tidak hanya menulis, Bernardo mengelola beberapa komunitas dan mendirikan penerbitan daring bernama Spirit Turki yang telah menerbitkan beberapa buku. Dua di antara penghargaan yang diterimanya adalah Juara I Nasional Lomba Karya Tulis Ilmiah untuk PTIN/PTIS UIN Syarif Hidayatullah (2009) dan Anugerah Mahasiswa Berprestasi Kepenulisan Islam Populer dari Kementerian Agama RI (2011).

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
Email: media@jilf.id
Telp: 0812-9817-7567

Press Release only available in Bahasa Indonesia.

Jakarta, 25 Juli 2019 – Masih dalam rangka menjelang perhelatan festival sastra bertaraf internasional—Jakarta International Literary Festival 2019—Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) hari ini mengadakan diskusi pra-festival yang ke-enam. Diskusi pra-festival kali ini mengangkat tema “Kanon Selatan” yang diadakan di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki. Diskusi ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Faruk Tripoli (Pakar Ilmu Budaya dan Guru Besar UGM) dan Razif (Komisaris Penerbit Balai Pustaka) serta dimoderatori oleh Dewi Anggraeni.

 

Setiap orang mempunyai gagasan yang berbeda mengenai karya apa yang layak disebut sebagai karya kanon. “Tujuan diskusi ini adalah mengenai seluk balok kanon, bagaimana hendaknya ia didefinisikan, perlu atau tidak kanon itu dibuat, standar dan kriteria untuk penyusunan kanon,“ ujar Dewi Anggraeni.

 

Dokumentasi perjalanan sastra Indonesia dianggap penting untuk memajukan kebudayaan. Untuk itu, komunitas sastra perlu segera menyusun kanon sastra atau daftar karya sastra yang bernilai estetik tinggi dan layak dibaca oleh publik. “Apabila tidak ada peneliti yang memberikan ulasan perkembangan sastra di Indonesia maka dunia sastra Indonesia menjadi hutan belantara tanpa referensi,” ungkap Komisaris Penerbit Balai Pustaka Razif. 

 

Nantinya kanon sastra memuat catatan atas perkembangan sastra yang ada serta mengulas buku-buku sastra berpengaruh. Selain itu, kanon juga menguraikan unsur kepengarangan seorang penulis atau tema yang berkembang dalam khazanah sastra nasional dan dunia.

 

Proses penyusunan kanon dapat dimulai dengan membentuk tim kurasi karya sastra dan mengulas pengarangnya dalam serangkaian diskusi yang demokratis. “Mereka perlu terlebih dulu menetapkan batasan tonggak perjalanan sastra modern Indonesia. Kita bisa memulai dari Negarakertagama atau Max Havelaar karya Multatuli,” lanjut Razif.

 

Razif juga menyarankan tim kurasi memperhatikan proporsi penulis perempuan dan laki-laki agar menghindari bias gender. Selain itu, kanon juga perlu mencakup tema sastra nasionalis dan anti kolonialisme. “Di dalam penyusunan daftar kanon sastra Indonesia bisa saja terjadi saling pengaruh antara novel Manusia Bebas karya Suwarsih Djojopuspito dan salah satu karya Pramoedya Ananta Toer,” ungkap dia. 

 

Pembicaraan mengenai kanon sastra masih minim. Menurut Faruk Tripoli setidaknya ada tiga kejadian heboh mengenai kanon sastra, yaitu: pada awal tahun 1980an di Solo, masuknya Denny J.A. dalam sebuah buku tentang beberapa tokoh sastra yang paling berpengaruh pada 2014, dan yang paling akhir adalah diskusi mengenai kanon sastra yang diselenggarakan dalam Kongres Kebudayaan 2019. 

 

Pakar Ilmu Budaya dan Guru Besar UGM itu juga mengemukakan adanya tiga pihak degan tiga kecenderungan orientasi kesastraan yang berbeda akhir-akhir ini dalam konteks sastra Indonesia. “Pertama, kecenderungan pluralistik yang didorong dan didukung oleh para akademisi yang berperspektif kajian budaya yang pluralistik. Kedua, pihak yang mempertahankan kaidah universal, dan yang ketiga adalah para sastrawan yang bersifat lintas-batas, baik batas wacana, seni, bahasa, genre, dan lainnya,” ujar Faruk.

 

Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019 

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang beberapa pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah. 

Festival sastra ini akan diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, pameran, lab ekosistem sastra, diskusi bacaan alternatif “Bacaan Liar”,  pasar hak cipta, dan Jakarta Award

 

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

 

Mengenai Pembicara Diskusi Pra-Festival #06

 

Faruk Tripoli adalah pakar ilmu budaya dan guru besar Universitas Gadja Mada (UGM) yang mendapat gelar profesor pada 2008. Di sana juga ia meraih S2 dan S3 dan mendedikasikan dirinya sebagai pengajar sastra dan ilmu budaya. Pernah mengajar di Hankuk University of Foreign Studies Seoul, Faruk aktif melakukan penelitian di bidang bahasa, sastra, serta budaya. 
Faruk dengan pengetahuannya tentang perkembangan sastra di Indonesia mengajak kita berdiskusi dengannya di Diskusi #06: Kanon Selatan, 25 Juli 2019 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

 

Razif yang menamatkan kuliah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia bergabung dengan Media Kerja Budaya tahun 1999. Ia bergabung dengan Institut Sejarah Indonesia pada 2002. Karena minat besarnya terhadap sejarah, Razif melanjutkan studi S2 Jurusan Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada pada 2007. Ia kini Komisaris di penerbit Balai Pustaka karena minat dan kepiawaiannya dalam dunia perbukuan.

 

Narahubung:

Dita Kurnia

Relasi Media JILF 2019 

E: media@jilf.id

T: 0812-9817-7567

Press Release only available in Bahasa Indonesia

Jakarta, 22 Juni 2019 | Sebagai bagian dari Jakarta International Literary Festival 2019, diskusi sastra bertajuk “Kuasa dan Nuansa Gender dalam Sastra” diadakan di POST Bookshop, Jakarta (22/6). Diksuki yang menghadirkan dua penulis muda ini membahas bagaimana sastra seakan terpecah oleh gender.

Menjelang perhelatan sastra bertaraf internasional yang mengundang beberapa pelaku sastra dunia—Jakarta International Literarty Festival (JILF) 2019 oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dilangsungkan rangkaian diskusi pra-festival yang menghadirkan para penulis muda. Enam diskusi pra-festival tersebut mengangkat tema yang bersinggungan dengan tema besar festival—yaitu “Pagar”—yang diadakan berkala dari April-Agustus 2019.

Diksusi pra-festival kali ini adalah diskusi yang ketiga dengan tema Kuasa dan Nuansa Gender dalam Sastra yang diadakan di salah satu kantong sastra—POST Bookshop. Diskusi ini menghadirkan pembicara Amanatia Junda (Penulis dan Editor) dan Sabda Armandio (Penulis) dan dimoderatori Isyana Artharini (salah satu Kurator JILF 2019).

“Diskusi hari ini membahas tentang bias-bias gender dalam sastra. Tema ini juga akan diangkat dalam salah satu simposium yang ada dalam festival pada Agustus 2019 mendatang. Tema ini diangkat karena relevan dan penting, serta belum banyak belum dibahas dalam konteks perkembangan sastra di negara-negara selatan,” ujar Isyana Artharini (Kurator JILF 2019).

JILF 2019 akan dipenuhi dengan agenda simposium dengan mengangkat isu-isu penting dalam sastra, yaitu komoditas sastra, kuratorial yang diterapkan untuk masuk pasar global, dilema tema yang biasa diangkat dari negara-negara selatan, dan bias gender—yang terkait dengan diskusi pra-festival kali ini.

“Menurut saya, situasi-situasi sosial-politik-budaya belakangan ini di Indonesia membikin topik relasi kuasa dan nuansa gender tetap menjadi isu krusial untuk dibicarakan dalam forum-forum, tak terkecuali forum sastra,” ujar Amanatia Junda.

“Dalam urusan kepenulisan, sejujurnya, saya tidak memikirkan gender ataupun seksualitas. Bahkan dalam percobaan novel terakhir saya berusaha menghadirkan narator aseksual, yang malah terasa seperti paramesium yang punya fobia sosial,” ujar Sabda Armandio.

Perhelatan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 hadir sebagai wadah pamer bagi para pelaku sastra Indonesia untuk benar-benar tampil di kancah internasional. Sampai saat ini, Komite Sastra DKJ melihat masih sedikit karya maupun penulis Indonesia yang menjadi perbincangan atau dibaca luas karyanya oleh pembaca sastra dunia.

“Perhelatan JILF ini menjadi salah satu ikhtiar terbesar kami untuk membantu karya sastra Indonesia memiliki suara penting dalam pergaulan internasional. Satu poin yang perlu digarisbawahi, memperbanyak penerjemahan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa lain sangat lah penting, makanya salah satu yang akan ada dalam festival ini adalah pasar hak cipta,” ujar Yusi Avianto Pareanom, Kurator JILF 2019 dan Ketua Komite Sastra DKJ.

Pasar Hak Cipta adalah jalan memperkenalkan judul-judul kesusastraan Indonesia agar mendapat akses lebih luas ke pembaca, baik dengan jalan diterjemahkan ke dalam bahasa asing ataupun dialihwahanakan ke dalam medium-medium kreatif yang sejalan dengan pemajuan ekonomi kreatif perindustrian buku Indonesia.

JILF 2019 dikuratori oleh Eka Kurniawan, Isyana Artharini, dan Yusi Avianto Pareanom. Mengusung “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Namun konsep pagar juga tidak selalu terikat dengan perlintasan batas-batas geografis sastra, akan tetapi juga mengandung makna perawatan dan pemeliharaan.

Festival sastra ini akan diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, pameran, lab ekosistem sastra, diskusi bacaan alternatif “Bacaan Liar”,  pasar hak cipta, dan Jakarta Award.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Pembicara Diskusi Pra-Festival #03

Amanatia Junda (@amanatia) adalah penulis dan editor di Penerbit Buku Mojok. Buku kumpulan cerpen pertamanya “Waktu untuk Tidak Menikah” terbit pada 2018. Setahun belakangan, bergabung dalam Perkawanan Perempuan Menulis yang tengah menyusun

kumpulan cerita mengenai ingatan perempuan pasca reformasi.

Sabda Armandio Alif (@armandioalif) adalah penulis muda yang muncul tak terduga. Dia hadir dengan novel pertamanya yang penuh humor ganjil, “Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya” langsung menjadi Novel Terbaik 2015 dari Majalah Rollingstone Indonesia. Novel keduanya, “Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif”, menjadi Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Selanjutnya, karya-karyanya yang menjanjikan berderet muncul. Dalam diskusi ini kita akan melihat bagaimana Dio memasukkan “kelamin” pada karyanya.

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
Email: media@jilf.id
Telp: 0812-9817-7567

 

Press Release only available in Bahasa Indonesia.

JAKARTA, 5 Agustus 2019 – Jakarta International Literary Festival (JILF) akan hadir pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Festival digagas oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan rencananya akan digelar setiap tahun. Proses kurasi dan perancangan program yang sebaik mungkin akan menjadikan Indonesia sebagai suara penting dalam percaturan sastra dunia. 

 

JILF adalah festival sastra yang pertama kali didukung langsung oleh pemerintah. Dengan identitas yang menitikberatkan pada pembacaan antarnegara Selatan, festival ini memberi kesempatan untuk lebih saling mengenal karya dan penulis di wilayah ini. Festival ini melibatkan lebih dari 60 penulis dan pelaku sastra dari dalam dan luar negeri.

 

Direktur Festival dan Kurator JILF 2019, Yusi Avianto Pareanom, menyebutkan bahwa festival ini bakal menjadikan Jakarta sebagai salah satu titik penting literasi dunia.

 

Selain Yusi, JILF 2019 juga dikuratori penulis Eka Kurniawan dan Isyana Artharini. Menurut Eka, JILF lahir dari pemikiran para penulis yang melihat munculnya konstelasi yang tidak terlalu imbang dalam kesusastraan secara global, termasuk festival-festival sastra di berbagai negara dan juga Indonesia. “Negara maju yang kebetulan secara geografis dan geopolitik ada di Utara sangat menguasai atau dominan dalam wacana, termasuk kesusastraan. Salah satu cara mengimbanginya adalah dengan melihat bagaimana sastra yang lain yang berada di selatan-selatan,” ujar Eka. 

 

Di tahun pertamanya ini, JILF mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung sekaligus pemisah antara dunia liar dan ketenangan rumah. Konsep pagar tidak selalu terkait dengan perlintasan batas-batas geografis sastra tetapi juga mengandung makna perawatan dan pemeliharaan sastra lokal. 

 

Sebagai pembuka festival adalah Pidato Kunci oleh Adania Shibli, penulis Palestina, yang akan memberikan representasi baru dari Palestina, yang selama ini kita ketahui lewat media, tentang kekayaan sastra dari sana, bagaimana pengalaman kolektif yang sangat masif dan menjadi memori sebuah bangsa seperti Hari Nakba tercermin dalam karya sastra, dan ruang bagi representasi akan tema-tema di Palestina. Adania, seorang penulis di lanskap budaya negaranya dan juga di tingkat dunia, juga akan bercerita lebih jauh tentang pilihan-pilihannya dalam berkarya, pengalaman yang membentuk tulisannya, serta apa yang ingin dicapai lewat karyanya. Pada malam pembukaan tersebut juga akan diwarnai oleh persembahan musik dari Frau.

 

Selanjutnya, selama lima hari berturut-turut, JILF 2019 akan menggelar program utama simposium dan bincang-bincang yang menampilkan tema-tema menarik dan penting dalam sastra Selatan. Simposium akan diadakan dua kali setiap hari yang dilanjutkan oleh perbicangan yang lebih cair mengenai tema-tema tertentu, dan perbincangan khusus dengan penulis terpilih. 


JILF 2019 juga mengajak pelaku maupun pecinta sastra di Indonesia untuk lebih jauh terlibat dan menikmati program-program utama lainnya yang tak kalah menarik, yaitu Malam Pembacaan Karya, Lab Ekosistem Sastra, Pameran Bacaan Liar: Era Kolonial, dan Pasar Buku yang bekerja sama dengan Patjar Merah. Satu hal yang istimewa dalam JILF 2019 adalah adanya program Pasar Hak Cipta, sebuah program andalan JILF yang jarang ditemui di festival sastra lain. Pasar Hak Cipta akan mempertemukan penerbit-penerbit internasional dan nasional untuk saling mengenalkan karya dari masing-masing negara, yang kali ini akan diikuti oleh lebih dari 30 penerbit.

 

Sebelumnya, sejak Mei sampai Juli, JILF 2019 telah didahului tujuh diskusi pemantik sebagai program pendukung yang mengangkat tema-tema simposium dengan isu lokal. Selanjutnya, selama lima hari festival, para pecinta maupun pelaku sastra juga dapat menikmati sajian pentas musik oleh Sal Priadi dan Nona Ria, pentas dongeng AkhirPekan@MuseumNasional, serta Sinema Sastra yang akan memutarkan film berdasarkan karya sastra yang keseluruhannya di adakan dalam Ruang Sastra dan Komunitas—yang dibangun di pelataran Teater Besar, TIM.

 

Jakarta International Literary Festival 2019 terselenggara terutama berkat dukungan Pemda DKI Jakarta, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bank BRI, Goethe Institut, Jakpro, Merdeka Coppergold, dan Kedutaan Besar Amerika. Festival ini juga didukung Asumsi.co, Beritagar.id, KBR, Harian Kompas, Magdalene.co, Power FM, Koran Tempo, Tempo.co, dan The Conversation sebagai rekanan media, serta sahabat festival Csutoras & Liando dan Yajugaya.

 

Seluruh kegiatan di JILF 2019 dapat dinikmati secara gratis dan terbuka untuk umum. Informasi lain mengenai JILF dapat ditemukan di www.jilf.id dan akun-akun media sosial @jilfindo.  

PAGAR

– oleh Kurator JILF 2019

 

Untuk beberapa alasan, gagasan mengenai festival kesusastraan menyiratkan tentang ruang perayaan atas pencapaian-pencapaian terkini. Kita tak hanya menjumpai penulis-penulis yang paling aktif; buku-buku yang tengah berputar dari rak toko buku, di meja-meja para pengulas yang kemudian ulasannya muncul di laman-laman media, hingga ruang-ruang baca pribadi; tapi juga gagasan-gagasan yang timbul karena kita menghadapi masalah-masalah keseharian yang perlu ditanggapi oleh para penulis dan pemikir. Sekilas itu merupakan sesuatu yang alamiah, sebuah lanskap kebudayaan yang memang seharusnya begitu, dan kita melakukannya terus-menerus, dari tahun ke tahun, dari satu tempat ke tempat lain. Kesusastraan dan kebudayaan secara umum, dilihat sebagai sejenis piramida, sejenis kompetisi yang mana festival kesusastraan merupakan puncak-puncaknya.

Dari sini kita tahu ada masalah yang sangat besar bagaimana kesusastraan diproduksi dan kemudian dirayakan. Festival, sebagaimana penerbit, media, klub buku, dan segala sumbu-sumbu industri buku yang menopangnya, jelas merupakan mesin yang memiliki pretensi memilah-milah, mengeliminasi, dan memilih. Problemnya selalu ada banyak bias dari sistem kerja mereka, yang selama ini berlangsung nyaris tanpa kecurigaan yang memadai. Demikianlah bagaimana sekat-sekat kemudian terbangun, dan kemudian ketimpangan-ketimpangan. Dalam konteks kesusastraan dunia, misalnya, bagaimana bahasa-bahasa kolonial terus bertahan mendominasi produksi dan komsumsi kesusastraan. Demikian pula wacana-wacana hetoronormatif sangat dominan dalam konteks bias gender. Pengaruh ini sangat nyata pada buku-buku yang diterbitkan secara global, penulis-penulis yang tampil di festival-festival atau memperoleh penghargaan kesusastraan, dan lain sebagainya.

Kesadaran akan adanya pagar, garis pemisah ini, merupakan salah satu cara untuk melihat secara kritis bagaimana kesusastraan di dunia beroperasi dan terbentuk. Pagar tak hanya mengurung sekelompok wacana elit kesusastraan dari kelompok besar lainnya, tapi juga memisahkan beragam kelompok satu dari yang lainnya. Pagar tak hanya membuat distribusi pengetahuan menjadi tak merata, tapi juga memblokade kemungkinan-kemungkinan terjadinya dialog yang sehat di antara kelompok-kelompok ini, yang pada akhirnya juga menimbulkan sikap penuh kecurigaan, jika bukan permusuhan dan kebencian, prasangka dan ketiadaan toleransi. Kita melihat problem-problem itu sekarang. Kita bisa mengatakan problem-problem itu telah ada sejak masa lampau yang jauh, tapi kita tak bisa mengelak betapa problem ini meningkat sangat tajam di zaman kita. Rasialisme, prasangka berdasarkan agama, xenophobia, diskriminasi gender, justru ketika globalisasi dan teknologi memungkinkan manusia berbaur dan berpindah nyaris tanpa sekat-sekat. Pagar itu memang tak lagi melulu berupa benteng getho, kawat berduri yang memisahkan satu negara dengan negara lain, meja imigrasi, atau sekadar ruang kelas yang memisahkan manusia berdasarkan jenis kelamin atau warna kulit. Pagar itu jauh lebih hidup di pikiran kita, beroperasi nyaris tak terlihat.

Kembali, dengan kesadaran akan keberadaan pagar ini, kita bisa mencoba membuka garis-garis pemisah, dan terutama menyediakan ruang bagi lebih banyak kelompok-kelompok yang terabaikan selama ini. Dalam konteks kesusastraan global, misalnya, sangat perlu melihat kesusastraan-kesusastraan yang lahir dari wilayah-wilayah yang tak terlalu terwakili: Asia dan Afrika. Begitu juga suara-suara dari kelompok minoritas sebagaimana juga ekspresi-ekspresi dari etnik-etnik yang mungkin tak pernah terdengar. Ruang ini, ruang di mana pagar coba dirubuhkan, beragam kelompok ini bisa mencoba berbaur dan bicara tentang diri mereka sendiri, atau saling membicarakan satu sama lain, dalam suatu dialog langsung tanpa perantara.

Di sinilah, festival ini berharap menjadi ruang terbuka, untuk mulai mempertanyakan pagar-pagar yang selama berabad-abad dibangun di mana-mana, dan bagaimana kita bisa membukanya, membuat pintu-pintu penghubung yang terbuka lebar.

 

Narahubung:
Dita K Raharjo
Tim Komunikasi – JILF 2019
Taman Ismail Marzuki
Jln. Cikini Raya No.73 Jakarta Pusat
Email: media@jilf.id
Telp: 021-31937639