Ketidaksetaraan 4.0

Internet seharusnya menjadi Penyeimbang Besar; alat yang memberi kesempatan sama pada semua orang agar suara mereka didengar dan memberi mereka akses terhadap kekayaan informasi yang sama—singkatnya, alat yang membuat semua orang menjadi setara. Tapi menurut laporan 2016 dari Bank Dunia, keyakinan positif ini sepertinya jauh dari kenyataan: Internet malah mungkin memperbesar kesenjangan. Teknologi digital menyebar secara cepat, tapi pertumbuhan, pekerjaan dan layanan jasa tetap tertinggal. 

Hal yang sama terjadi di sastra. Bahkan dengan volume pertukaran informasi yang tinggi serta jejaring yang dibangun di dunia maya, dengan beragam platform bagi penulis untuk memperlihatkan karyanya, internet masih belum bisa menyeimbangkan lansekap yang memungkinkan karya penulis dari negara asing atau berkembang untuk masuk ke pasar internasional. Apa alasannya?

Tentu saja, kita bisa menyebut kemenangan Behrouz Boochani baru-baru ini sebagai contoh bagaimana teknologi informasi bisa membuat suara yang paling terpinggirkan menjadi terdengar. Tapi ini hanya satu contoh kecil, tak sebanding dengan apa yang kita bayangkan akan kemungkinan yang ditawarkan oleh internet.  

Apakah faktor geografi —kedekatan dengan pusat-pusat budaya dan penerbitan—masih berperan di dunia yang semakin mengglobal? Apakah generasi penulis yang lebih muda masih percaya akan buku cetak, atau apakah platform digital baru (Storial, Wattpad) sudah cukup bagi mereka?

 

Pembicara :
Eliza Victoria (PHL) 
Amir Muhammad (MYS) 
Anya Rompas (IDN)

Moderator :
Teddy W Kusumo (IDN)

Tanggal

22 Agustus 2019

Jam

10:30 - 12:30

Lokasi

Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya No. 73 Jakarta Pusat
Kategori

Cuaca

Berawan
29 °C
Angin: 14 KPH
Kelembaban: 1 %
Jarak Pandang: 16 KM
X
QR Code
0 komentar

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2019 JILF - Jakarta International Literary Festival