Untuk beberapa alasan, gagasan mengenai festival kesusastraan (atau sejenisnya) menyiratkan tentang ruang perayaan atas pencapaian-pencapaian terkini. Kita tak hanya menemukan penulis-penulis yang paling aktif; buku-buku yang tengah berputar dari rak toko buku, di meja-meja para pengulas yang kemudian ulasannya muncul di laman-laman media, hingga ruang-ruang baca pribadi; tapi juga gagasan-gagasan yang timbul karena kita menghadapi masalah-masalah keseharian yang perlu ditanggapi oleh para penulis dan pemikir. Sekilas itu merupakan sesuatu yang alamiah, sebuah lanskap kebudayaan yang memang seharusnya begitu, dan kita melakukannya terus-menerus, dari tahun ke tahun, dari satu tempat ke tempat lain. Kesusastraan dan kebudayaan secara umum, dilihat sebagai sejenis piramida, sejenis kompetisi di mana festival kesusastraan merupakan puncak-puncaknya.

Dari sini kita tahu ada masalah yang sangat besar bagaimana kesusastraan diproduksi dan kemudian dirayakan. Festival, sebagaimana penerbit, media, klub buku, dan segala sumbu-sumbu industri buku yang menopangnya, jelas merupakan mesin yang memiliki pretensi memilah-milah, mengeliminasi, dan memilih. Problemnya selalu ada banyak bias dari sistem kerja mereka, yang selama ini berlangsung nyaris tanpa kecurigaan yang memadai. Demikianlah bagaimana sekat-sekat kemudian terbangun, dan kemudian ketimpangan-ketimpangan. Dalam konteks kesusastraan dunia, misalnya, bagaimana bahasa-bahasa kolonial terus bertahan mendominasi produksi dan komsumsi kesusastraan. Demikian pula wacana-wacana hetoro-normatif sangat dominan dalam konteks bias gender. Pengaruh ini sangat nyata pada buku-buku yang diterbitkan secara global, penulis-penulis yang tampil di festival-festival atau memperoleh penghargaan kesusastraan, dan lain sebagainya.

Kesadaran akan adanya pagar, garis pemisah ini, merupakan salah satu cara untuk melihat secara kritis bagaimana kesusastraan di dunia beroperasi dan terbentuk. Pagar tak hanya mengurung sekelompok wacana elit kesusastraan dari kelompok besar lainnya, tapi juga memisahkan beragam kelompok satu dari yang lainnya. Pagar tak hanya membuat distribusi pengetahuan menjadi tak merata, tapi juga memblokade kemungkinan-kemungkinan terjadinya dialog yang sehat di antara kelompok-kelompok ini, yang pada akhirnya juga menimbulkan sikap penuh kecurigaan, jika bukan permusuhan dan kebencian, prasangka dan ketiadaan toleransi. Kita melihat problem-problem itu sekarang. Kita bisa mengatakan problem-problem itu telah ada sejak masa lampau yang jauh, tapi kita tak bisa mengelak betapa problem ini meningkat sangat tajam di zaman kita. Rasialisme, prasangka berdasarkan agama, xenophobia, diskriminasi gender, justru ketika globalisasi dan teknologi memungkinkan manusia berbaur dan berpindah nyaris tanpa sekat-sekat. Pagar itu memang tak lagi melulu berupa benteng getho, kawat berduri yang memisahkan satu negara dengan negara lain, meja imigrasi, atau sekadar ruang kelas yang memisahkan manusia berdasarkan jenis kelamin atau warna kulit. Pagar itu jauh lebih hidup di pikiran kita, beroperasi nyaris tak terlihat.

Kembali, dengan kesadaran akan keberadaan pagar ini, kita bisa mencoba membuka garis-garis pemisah, dan terutama menyediakan ruang bagi lebih banyak kelompok-kelompok yang terabaikan selama ini. Dalam konteks kesusastraan global, misalnya, sangat perlu melihat kesusastraan-kesusastraan yang lahir dari wilayah-wilayah yang tak terlalu terwakili: Asia dan Afrika. Begitu juga suara-suara dari kelompok LGBT, para penganut agama minoritas sebagaimana juga ekspresi-ekspresi dari etnik-etnik yang mungkin tak pernah terdengar. Tak hanya itu, tentu saja. Ruang ini, ruang di mana pagar coba dirubuhkan, beragam kelompok ini bisa mencoba berbaur dan bicara tentang diri mereka sendiri, atau saling membicarakan satu sama lain, dalam suatu dialog langsung tanpa perantara.

Di sinilah, festival ini berharap menjadi ruang terbuka, untuk mulai mempertanyakan pagar-pagar yang selama berabad-abad dibangun di mana-mana, dan bagaimana kita bisa membukanya, membuat pintu-pintu penghubung yang terbuka lebar.