News only available in Bahasa Indonesia

 

LANGKAN

Nilai patriaki di dunia sastra diyakini makin mengukuhkan odminasi laki-laki meski feminisme belkangan hadir sebagai negasi, demi kesetaraan dan aksi afirmasi bagi perempuan. Topik itu dibahas dalam pradiskusi Jakarta International literary Festival (JILF), Sabtu (22/6/2019), di Jakarta. Diskusi “Many Faces of the South: Kuasa dan Nuansa Jender dalam Sastra” itu menampilkan Amanatia Junda dan Sabda Armandio sebagai pembicara. Sabda menjelaskan soal kepercayaan feminisme akan adanya hierarki dalam konstruksi sosial, yakni patriaki. Laki-lai memanifestasikan diri melalui kekuasaan dan status. Perempuan memanifestasikan diri dalam kepatuhan dan sikap pasif. Menurut dia, feminisme merupakan penolakan atas hierarki itu karena tidak adil dan tidak perlu. Amanatia menyebut patriaki sebagai produk konstuksi sosial. Menurut dia, paham itu bisa diperbaharui di sutu tempat pada waktu tertentu.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *