News only available in Bahasa Indonesia

 

Nurul Faradilla | 23 hari yang lalu

Jakarta – Jelang perhelatan Jakarta International Literary Festival, 23-24 Agustus 2019 mendatang di Taman Ismail Marzuki-Jakarta, Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengadakan rangkaian diskusi pra-festival, yang mendatangkan para penulis muda.

Enam diskusi pra-festival mengangkat tema besar festival, yaitu ‘Pagar’. Diskusi ini, dilakukan secara berkala sejak bulan April hingga Agustus 2019. Pada diskusi ketiga yang diadakan di salah satu kantong sastra, yakni POST Bookshop, Pasar Santa, Jakarta Selatan, Sabtu (22/06/2019) mengusung tema ‘Kuasa dan Nuansa Gender dalam Sastra’.

Hadir dalam diskusi ini yaitu Amanitia Junda (Penulis dan Editor) dan Sabda Armandio (Penulis), serta dimoderatori oleh Isyana Artharini (salah satu Kurator JILF 2019).

“Diskusi hari ini membahas tentang bias-bias gender dalam sastra. Tema ini juga akan diangkat dalam salah satu simposium yang ada dalam festival pada Agustus 2019 mendatang. Tema ini diangkat karena relevan dan penting, serta belum banyak dibahas dalam konteks perkembangan sastra di negara-negara selatan,” ujar Isyana Artharini, dalam siaran pers yang diterima beritabaik.id.

JILF 2019 nantinya akan dipenuhi oleh agenda simposium dengan mengangkat isu-isu penting dalam sastra, yakni komoditas sastra, kuratorial yang diterapkan untuk masuk pasar global, dilema tema yang biasa diangkat dari negara-negara selatan, serta bias gender.

“Menurut saya, situasi-situasi sosial-politik-budaya belakangan ini di Indonesia membikin topik relasi kuasa dan nuansa gender tetap menjadi isu krusial untuk dibicarakan dalam forum-forum, tak terkecuali forum sastra,” ujar Amanatia Junda, penulis dan editor di Penerbit Buku Mojok.

Sabda Armandio menambahkan bahwa dalam urusan kepenulisan, sejujurnya, ia tidak memikirkan gender ataupun seksualitas. “Bahkan dalam percobaan novel terakhir saya berusaha menghadirkan narator aseksual, yang malah terasa seperti paramesium yang punya fobia sosial,” katanya.

Perhelatan Jakarta International Literary Festival 2019, bertujuan sebagai wadah ‘pamer’ bagi para pelaku sastra di Indonesia untuk benar-benar tampil di kancah internasional. Sampai saat ini, Komite Sastra DKJ melihat masih sedikit karya maupun penulis Indonesia yang menjadi perbincangan atau dibaca karyanya oleh pembaca sastra dunia.

“Perhelatan JILF ini menjadi salah satu ikhtiar terbesar kami untuk membantu karya sastra Indonesia memiliki suara penting dalam pergaulan internasional. Satu poin yang perlu digarisbawahi, memperbanyak penerjemahan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa lain sangat penting, makanya salah satu yang akan ada dalam festival ini adalah pasar hak cipta,” ujar Yusi Avianto Pareanom, Kurator JILF 2019 dan Ketua Komite Sastra DKJ.

Pasar Hak Cipta adalah jalan memperkenalkan judul-judul kesusastraan Indonesia agar mendapat akses lebih luas ke pembaca. Baik dengan cara diterjemahkan ke dalam bahasa asing ataupun dialihwahanakan ke dalam medium-medium kreatif yang sejalan dengan pemajuan ekonomi kreatif perindustrian buku Indonesia.

JILF 2019 dikuratori oleh Eka Kurniawan, Isyana Artharini, dan Yusi Avianto Pareanom. Festival ini mengusung tema ‘Pagar’ untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Namun konsep pagar juga tidak selalu terikat dengan perlintasan batas-batas geografis sastra, akan tetapi juga mengandung makna perawatan dan pemeliharaan.

Festival sastra ini akan mengundang tidak hanya penulis dari Indonesia, namun juga penulis dan penerbit dari luar negeri untuk mengisi rangkaian acara JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci simposium, pameran, lab ekosistem sastra, diksusi bacaan alternatif ‘Bacaan Liar’, pasar Hak Cipta, dan Jakarta Award.

 

Sumber: www.beritabaik.id

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *