Press Release only available in Bahasa Indonesia 

Pada hari terakhir perhelatan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 digelar dua simposium yang mengusung tema “Dilema Tema Umum Selatan” pada pukul 10:30 dan “Perlukah Kanon Selatan” pada pukul 13:30 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Serta satu talkshow bertajuk “Sastra” pukul 16:00 di Ruang Sastra dan Komunitas, Plaza Teater Besar.

Intan Paramaditha (Indonesia), Legodile Seganabeng (Bostwana), Sherlene Teo (Singapura) mempresentasikan makalah masing-masing dalam simposium bertajuk “Dilema Tema Umum Selatan”, dimoderatori oleh Nukila Amal. 

Intan, yang mendapat giliran presentasi pertama, bicara tentang sastra global, makna kosmopolitanisme, dan bagaimana kesenjangan suara dan keterwakilan tetap terjadi dalam konstelasi sastra dan perbukuan dunia hari ini. Legodile Seganabeng, yang maju berikutnya, menyajikan pengalamannya sebagai pengarang di Botswana di mana tradisi penerbitan belum berkembang jauh. Sastra sulit diterbitkan dan seringkali pengarang harus mengorbankan kreativitas dan orisinalitasnya agar dapat diterbitkan. Tema-tema yang diangkat seringkali mempertimbangkan apa yang “seksi” bagi mata orang luar Botswana, bukan yang ingin dibicarakan oleh masyarakat Botswana itu sendiri. 

Terakhir, Sherlene Teo, pengarang novel “Ponti” yang telah tinggal selama 13 di Inggris, berbagi tentang bagaimana identitasnya terkadang menjadi beban dalam berkreasi, dengan adanya asumsi atau ekspektasi tentang dirinya sebagai warga kelahiran Asia Tenggara. Di sisi lain, posisinya yang jauh dari tanah kelahiran menciptakan jarak yang memudahkannya untuk berefleksi secara lebih mendalam. 

Hilmar Farid (Indonesia), Ramon Guillermo (Filipina), dan Adania Shibili (Palestina) menjelajahi topik kanon Selatan. Dipandu Stephanos Stepanides (Cyprus) sebagai moderator, simposium ini menjadi diskusi yang hidup tentang kemungkinan-kemungkinan akan kanon Selatan dan bagaimana komunitas sastra Selatan menyikapinya.

Ramon Guillermo mengawali simposium dengan pijakan sejarah kokoh berupa grafis yang menggambarkan arus penerjemahan karya-karya Asia Tenggara di kota-kota besar dunia seperti Moskow, Paris, dan Tokyo. Grafis ini menjadi latar yang berguna saat kemudian gagasan tentang perlunya kanon Selatan dilontarkan oleh Hilmar Farid, yang mempertimbangkan cita-cita para pendiri bangsa sesama kawasan terjajah baru saja merdeka dan beraliansi dalam Konferensi Asia-Afrika 1955.

Namun, Adania Shibili membuat audiens tertegun dengan presentasinya tentang bagaimana penjajahan Israel atas Palestina juga mencakup penyitaan dan penghapusan karya-karya sastra Palestina, lewat proyek-proyek National Library of Israel. Pada titik ini, Adania seperti mengajak penonton untuk membayangkan bagaimana berbicara tentang kanon Selatan saat bangsa Palestina tidak dapat mengakses khazanah sastra dan budayanya sendiri. Salah satu tanggapan, dari Ramon, mengajukan tawaran menarik untuk menguatkan infrastruktur literasi Selatan, tepatnya perpustakaan, sehingga pengetahuan dapat diakses seluas-luasnya. 

Pada akhirnya, diskusi berakhir dengan pemahaman bersama bahwa pembicaraan kanon Selatan mesti mengakomodasi narasi dan suara yang plural, kekayaan khazanah dunia, dan platform bagi representasi warga dunia yang lebih setara. 

Di talkshow mengenai Sastra Boga, sejarawan budaya Timbul Haryono dan penulis sejarah boga Fadly Rahman mengajak hadirin menelusuri makanan lewat literatur, khususnya catatan para sejarawan dan pengelana zaman dulu. Dipandu moderator Ade Putri, bincang-bincang ini membuka cakrawala pengetahuan tentang bagaimana makanan sebagai aspek budaya dapat menjadi cermin suatu masyarakat dan zaman. 

Diawali  dengan cerita keduanya tentang asal kata “boga” dan “kuliner”, pembicaraan segera berkembang ke berbagai pengaruh luar hari ini dalam masakan nusantara, misalnya vrijkadel, yang dalam masyarakat Belanda terbuat dari daging babi, tapi di Indonesia menjadi perkedel yang terbuat dari macam-macam bahan. Selain perubahan pada bahan, fungsi makanan pun dalam masyarakat kita akhirnya juga beralih. Timbul Haryono mengungkapkan fungsi sehari-hari, fungsi sosial, dan fungsi ritual dalam masyarakat kita zaman dahulu yang kini sudah tidak lagi berlaku.

Lewat perbincangan ini, kemudian terkuak pula berbagai kreativitas, kebijaksanaan, dan kekayaan nusantara yang tersimpan dalam masakan. Misalnya, bagaimana masyarakat kita konon mengatasi minimnya jumlah daging yang terjangkau pada masa penjajahan dengan berkreasi menggunakan kaki sapi, kepala kambing, jerohan, dan sebagainya; bagaimana keberlangsungan lingkungan hidup terjaga lewat kebutuhan makan yang secukupnya; dan bagaimana tradisi makan bersama menjadi kunci ikatan sosial yang harmonis. 

Pada malam penutupan festival sastra internasional ini, acara di pusatkan di Ruang Sastra dan Komunitas—yang bangunannya dirancang oleh Laszlo Csutoras dan Melissa Liando. Yusi Avianto Pareanom menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah terlibat, dan penonton yang telah hadir memeriahkan festival selama lima hari ke belakang. “Sampai jumpa pada perhelatan JILF tahun depan,” tutupnya saat memberikan ucapan penutupan.

Di area ruang bundar yang dibangun di Plaza Teater Besar, TIM itu diadakan Malam pembacaan karya oleh Momtaza Mehri (Somalia), Intan Paramaditha, dan Legodile Seganabeng. Setelahnya, program AkhirPekan@MuseumNasional yang biasa dipentaskan di Museum Nasional Indonesia diboyong ke TIM. Mereka memainkan lakon “Asam di Laut, Garam di Gunung” yang mengocok perut pentonton yang memenuhi ruang bundar tersebut. Setelahnya dilanjutkan dengan penampilan musik Nona Ria, dan ruru radio berkaroke.


Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019 

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang para pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah. 

Festival sastra ini diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, talkshow bersama para penulis, pameran “Bacaan Liar”, laboratorium ekosistem sastra, pasar hak cipta, pasar buku, dan kegiatan komunitas.

Jakarta International Literary Festival 2019 terselenggara terutama berkat dukungan Pemda DKI Jakarta, Indonesiana – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bank BRI, Goethe Institut, Jakpro, Merdeka Coppergold, dan Kedutaan Besar Amerika. Festival ini juga didukung Asumsi.co, Beritagar.id, KBR, Harian Kompas, Magdalene.co, Power FM, Koran Tempo, Tempo.co, dan The Conversation sebagai rekanan media, serta sahabat festival Csutoras & Liando dan Yajugaya.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Para Pembicara:

Dapat dilihat di website kami: https://www.jilf.id/id/penulis/ 

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
E: media@jilf.id
T: 0812-9817-7567