Press Release only available in Bahasa Indonesia

Pada hari pertamanya, Jakarta International Literary Festival (JILF) menggelar dua simposium dan satu talkshow yang membahas aneka “pagar” dalam dunia kesusastraan dan penerbitan. Pagar pertama berupa jebakan pengulangan tema dan komodifikasi yang dibahas dalam simposium bertajuk “Lepas dari Komodifikasi” pukul 10:30 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, “pagar” kedua adalah peran bahasa Inggris dan proses kuratorial yang menyertainya yang dibahas dalam simposium “Kuratorial yang Tak Nampak” pukul 13:30, dan sebuah perbincangan santai bersama dua penulis yang mengeksplorasi tema lokal yang bertajuk “Cerita-cerita dari Sekitar” pukul 16:00.

Dalam “Lepas dari Komodifikasi,” Linda Christanty menyebut persepsi, bias, prasangka, bisnis dan politik turut berperan dan menentukan laik-tidaknya sebuah karya terbit. Oliver Precht dosen filsafat dan sastra di University of Munich menyebut interpretasi terus-menerus dan framing—selain marketing, bisa jadi perangkat penting untuk “menolak” determinasi pasar yang menghendaki karya yang itu-itu saja. Laura Prinsloo ketua Komite Buku Nasional Indonesia menyebut ilustrasi buku menjadi jembatan penting untuk menarik agen atau penerbit luar. Yang tak kalah penting katanya adalah peran agen sastra yang mampu menemukan “karakter” buku dan menghubungkannya dengan pasar yang tepat.

Shenaz Patel penulis Mauritius menekankan pentingnya eksplorasi penulis. Dia sendiri “nekat” mulai menulis dalam bahasa Kreol sebuah bahasa yang mengalami marginalisasi di Mauritius. Patel menyebut persilangan bahasa ini penting untuk menciptakan kembali “dunia” baru dan pengembangan bahasa itu sendiri.

Dalam “Kuratorial yang Tak Nampak” Stephanos Stephanides, penyair dan esais dari Cyprus, memperkenalkan istilah kosmopoetik sebagai upaya penulis dan penerjemah untuk keluar dari determinasi bahasa. Kosmopoetik, istilah yang dikaitkan dengan kosmopolitan semacam adalah upaya untuk menciptakan kemungkinan bentuk-bentuk baru melampaui apa yang sudah ada dan mapan. Sementara penulis muda Clarissa Goenawan mengatakan penguasaan bahasa Inggris bukanlah penentu kualitas karya. Otentisitas sebuah karya katanya juga bisa dicapai lewat pengalaman pribadi juga riset mendalam

Laurie Callahan, Redaktur Pelaksana di New Directions Publishing Corp—yang menerbitkan karya Eka Kurniawan dalam bahasa Inggris—menyatakan Bahasa Inggris katanya lebih bersifat sebagai jembatan. Sepengalamannya, lewat bahasa Inggrislah justru sebuah karya bisa menjangkau lebih banyak orang. Dia mencontohkan Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan yang setelah diterjemahkan ke bahasa Inggris telah dialihbahasakan ke lebih dari 20 bahasa.

Selanjutnya, dalam bincang-bincang santai dua penulis Legodile Saganabeng (Botswana) dan Azhari Aiyub (Indonesia) bersemangat menguliti apa itu lokalitas dalam talkshow bertajuk “Cerita-Cerita dari Sekitar.” Azhari menekankan apa yang dimaksud dengan lokalitas sebenarnya amat cair dan tidak relevan. Bagi orang Aceh, Jakarta itu lokal, demikian pula sebaliknya. Seorang penulis katanya tidak boleh membatasi topik yang dia tulis, termasuk dalam hal lokalitas.

Legodile menafsirkan cerita lokal dari lingkungan sekitar sebagai karya-karya yang membahas tentang identitas. Karya lokal adalah karya-karya di mana pembaca bisa terhubung dengan apa yang mereka baca. Dalam konteks Botswana kata dia, konteks lokal juga penting sebab perpustakaan-perpustakaan sangat sedikit menyediakan karya dari penulis lokal, apalagi yang bisa membangun kebanggaan terhadap kebudayaan mereka. Penulis lokal hanya sedikit dan perusahaan penerbit buku hanya menerbitkan buku-buku pelajaran saja. Karena itu karya lokal adalah karya yang mampu menjawab tantangan-tantangan tersebut.

Pada pukul 18:30 dilaksanakan Bincang Penulis Sastra dengan narasumber Budi Darma, Azhari Aiyub, dan Clarissa Goenawan (Singapore). Dilanjutkan dengan agenda  Pembacaan Karya, dan musik oleh Danilla Riyadi.

Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang para pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah.

Festival sastra ini diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, talkshow bersama para penulis, pameran “Bacaan Liar”, laboratorium ekosistem sastra, pasar hak cipta, pasar buku, dan kegiatan komunitas.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Para Pembicara:
Dapat dilihat di website kami: https://www.jilf.id/id/penulis/

 

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
Email: media@jilf.id
Telp: 0812-9817-7567