Press Release only available in Bahasa Indonesia

Jakarta, 29 Juni 2019 – Masih dalam rangka menjelang perhelatan festival sastra bertaraf internasional—Jakarta International Literary Festival 2019—Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) hari ini mengadakan diskusi pra-festival yang ke-empat. Diskusi pra-festival kali ini mengangkat tema “Menjual (Sastra) Indonesia” yang diadakan di Kios Ojo Keos, Lebak Bulus. Diskusi ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Mario F. Lawi (Jurnalis dan Penulis) dan Bernando J. Sujibto (Akademisi), serta dimoderatori oleh Ni Made Purnamasari (Penulis).

“Jakarta International Literary Festival 2019 ini merupakan yang pertama diadakan oleh Komite Sastra DKJ, tapi saya yakin bukan yang terakhir. Semoga dengan festival sastra ini, para pelaku sastra di negara-negara selatan bisa saling membaca karya antar negara,” ujar Yusi Avianto Pareanom (Direktur Festival JILF 2019 dan Ketua Komite Sastra DKJ).

Diskusi “Menjual (Sastra) Indonesia” mencoba memberikan pandangan mengenai mengapa kurasi karya tidak seharusnya dibatasi pada muatan lokalnya saja. Dua pembicara juga berbagi pendapat mengenai cara membuka kanal-kanal bagi karya sastra untuk masuk ke dalam laku penerjemahan bahasa selain bahasa Inggris.

“Menurut saya, langkah pertama yang tepat adalah membeli karya sastra—menerjemahkan khazanah-khazanah sastra di luar bahasa Inggris itu. Saya belajar dari beberapa kasus, terutama saya belajar ini dari Turki,” ujar Bernando J. Sujibto.

Bernando juga mengutarakan tiga kelemahan sastra yang ada di Indonesia, yaitu mengenai isu penerjemah dan jaringan. “Pertama, upaya menjual karya sastra Indonesia ke negara-negara di luar Inggris terhambat oleh minimnya sumber daya dan kemampuan penerjemah terkait dengan bahasa-bahasa asing di luar Inggris. Kedua, jaringan penerjemahan dan perbukuan ke berbagai negara di luar Inggris harus diakui masih lemah. Dan yang ketiga, belum adanya sekolah penerjemah yang bertujuan untuk mencetak penerjemah dari bahasa Indonesia ke bahasa bersangkutan,” lanjut Bernando.

Mario F. Lawi menceritakan pengalamannya dalam menerjemahkan karya-karya sastra Eropa, Inggris, dan Latin Klasik. “Dalam khazanah Indonesia, karya seperti puisi-puisi Catullus dan Sulpicia adalah asing dalam sejumlah hal. Misalnya, karena ditulis dalam bahasa yang dianggap mati dan dihasilkan dua ribuan tahun yang lalu, tidak dianggap penting karena tidak secara langsung berkaitan dengan tradisi kesusastraan Indonesia,” ujar Mario.

Namun, Mario tidak menyinggung lebih jauh mengenai persoalan jual-menjual sastra Indonesia ke pembaca internasional. Karena dalam perdebatan industri perbukuan internasional sering dipersempit menjadi wilayah para pembaca berbahas Inggris saja. Ia mengamini pendapat Bernando mengenai penerjemahan karya-karya di luar Inggris ke dalam khazanah Indonesia perlu diusahakan, termasuk karya-karya yang lebih tua dari bahasa apa pun.

Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang beberapa pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah.

Festival sastra ini akan diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, pameran, lab ekosistem sastra, diskusi bacaan alternatif “Bacaan Liar”,  pasar hak cipta, dan Jakarta Award.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Pembicara Diskusi Pra-Festival #04

Mario F. Lawi adalah penulis di media online yang juga penulis sastra muda berbakat. Ia aktif di Komuitas Sastra Dusun Flobamora, Kupang. Mario menulis kumpulan puisi yang diterbitkan sejak 2013. Salah satu karyanya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Ia juga penerjemah karya-karya sastra berbahasa Italia, Inggris, dan Latin Klasik. Dua karyanya masuk dalam longlist Khatulistiwa Literary Award (2014) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (2016).

Bernando J. Sujibto adalah dosen Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga yang telah banyak menulis dan berkecimpung dalam karya-karya yang mengangkat tema tentang Turki dan Islam popular yang dimulai saat ia mendapat beasiswa S2 di Selcuk University, Turki. 
Tidak hanya menulis, Bernardo mengelola beberapa komunitas dan mendirikan penerbitan daring bernama Spirit Turki yang telah menerbitkan beberapa buku. Dua di antara penghargaan yang diterimanya adalah Juara I Nasional Lomba Karya Tulis Ilmiah untuk PTIN/PTIS UIN Syarif Hidayatullah (2009) dan Anugerah Mahasiswa Berprestasi Kepenulisan Islam Populer dari Kementerian Agama RI (2011).

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
Email: media@jilf.id
Telp: 0812-9817-7567