Press Release only available in Bahasa Indonesia

Pada hari keduanya, Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 menggelar dua simposium dan satu talkshow yang membahas aneka “pagar” dalam dunia kesusastraan dan penerbitan. Simposium pertama diadakan pada pukul 10:30 di Teater Kecil, TIM yang membicarakan “Ketidaksetaraan 4.0” yang kerap terjadi. Simposium kedua bertajuk “Membaca Satu Sama Lain” pukul 13:30, dan sebuah perbincangan santai bersama dua penulis yang mengeksplorasi pengaruh identitas penulis yang cair (queer) terhadap penulisan dan bahasa yang digunakan.

Pada simposium “Ketidaksetaraan 4.0” Eliza Victoria dari Filipina mempresentasikan bahwa internet bisa menjadi salah satu alat untuk mendorong kesetaraan dalam dunia sastra: media sosial mempermudah akses ke komunitas penulis, akses ke informasi mengenai industri penerbitan, dan juga mempermudah penulis untuk mengirimkan tulisannya ke berbagai publikasi. Internet bisa menjembatani jarak dan batas geografis, namun internet juga adalah bagian dari dunia dan masih mempunyai struktur kekuasaan dan ketidaksetaraan yang sama. Tantangan dalam dunia 4.0 adalah bagaimana penulis bisa menembus pasar internasional tanpa menyembunyikan atau mengubah identitas penulis agar lebih mudah diterima oleh pasar Barat.

Di Indonesia, menurut Anya Rompas, komunitas sastra terutama di Jakarta masih didominasi oleh gatekeepers. Para elit sastra ini, di awal naiknya popularitas internet di awal 2000, menganggap sastra yang disirkulasi di internet sebagai ‘tong sampah’, karya-karya yang ditolak oleh media cetak — media yang dianggap superior. Anya mengharapkan segala macam karya bisa hadir berdampingan dalam dunia sastra dan merepresentasikan berbagai macam estetika dan ideologi, dan juga terbuka terhadap diskusi dan menerima kritik.

Amir dan perusahaan penerbitannya mengambil risiko untuk menerbitkan penulis-penulis yang sebelumnya ditolak oleh penerbit konvensional. Ia menerbitkan buku-buku bergenre thriller dan horor ketika kebanyakan sastra Malaysia didominasi oleh buku-buku bergenre romansa. Strategi pemasaran Amir adalah dengan mendekatkan diri ke pembaca, yaitu dengan mengikuti kembali semua followers Twitter akun penerbitannya dan membaca feed untuk mengetahui apa yang pembaca pikirkan. Ia merasa terkadang penerbit terlalu berfokus kepada pembaca internasional imajiner dan melupakan bahwa banyak pembaca di sekitar yang belum dijangkau.

Sastra Asia Tenggara, terutama Malay-Indo, tetap menjadi marjinal dalam sastra dunia meskipun memiliki jumlah pembaca yang banyak. Pada simposium kedua hari ini bertajuk “Membaca Satu Sama Lain” Faisal Tehrani membicarakan intellectual imperialism, yaitu ketika penulis mencoba membentuk karyanya untuk meniru atau membuat kagum kelompok lain yang dianggap superior, yaitu pasar Barat. Padahal, dominasi kerangka kreativitas Barat dalam komunitas sastra justru menghambat kreativitas penulis, dan maka dari itu penting untuk mempertahankan karakteristik, perspektif, dan politik khas dari sastra Malay-Indo.

Momtaza Mehri mempresentasikan Diasporic Entanglement – A Poetics of Relation yang membicarakan identitas dan karyanya sebagai penulis diaspora yang keturunan Somali dan lahir di London. Mehri mempertanyakan siapa yang berhak menjadi penulis dan pembaca dalam sastra dunia, dan menggarisbawahi bahwa tidak ada suara singular yang bisa merepresentasikan Somalia karena keberagaman pengalaman yang begitu luas. Menjadi penulis diaspora adalah seperti membuat karya yang berasal dari negara imajiner yang menyatukan berbagai karakteristik dari dua dunia, yaitu kampung halaman penulis dan tempat penulis tumbuh dan berkembang.

Aan Mansyur mengusulkan beberapa cara yang bisa memudahkan komunitas sastra di Indonesia dan Malaysia untuk menikmati karya satu sama lain: 1) Membuat media bersama antara dua negara atau lebih, seperti New Naratif, dan media ini bisa dijalankan oleh kelompok yang rutin membuat acara sastra atau penerbit independen. 2) Menghadirkan lebih banyak penulis Malaysia di acara-acara sastra Indonesia. 3) Mengangkat martabat penerjemah, misalnya memberikan penerjemah ruang dan kuasa sebagai kurator. 4) Penerbitan silang. Aan juga menekankan bahwa ada tangga yang perlu kita robohkan sebelum kita merobohkan pagar—hierarki dalam sastra Indonesia sendiri perlu diruntuhkan untuk membangun lingkungan sastra yang lebih terbuka dan lebih setara.

Identitas Cair dan Penulisan

Hendri Yulius (Indonesia) membuka talkshow dengan menyatakan perlunya mendefinisikan queerness di luar konteks orientasi seksual dan identitas gender. Menurut Hendri, Bahasa Indonesia yang tidak bergender bisa dijadikan medium yang baik untuk menjelajahi queerness dan menantang konstruksi identitas yang kaku.

Hendri, Akhil Katyal (India), dan Hetih Rusli (Indonesia) juga mendiskusikan karakteristik-karakteristik tulisan queer. Semua emosi bersifat universal dan tidak ada emosi atau perasaan yang dirasakan hanya oleh orang-orang queer. Namun, di lingkungan yang tidak ramah terhadap orang-orang queer, alienasi dan kesepian yang dirasakan oleh mereka akan terasa lebih intens.

Hendri menyebutkan bahwa tugas terbesar penulis queer Indonesia adalah menemukan cara untuk mengambil kembali dan melokalisasi istilah-istilah yang berkaitan dengan queerness — seperti queer, LGBT, dan istilah lain yang biasa digunakan sebagai ejekan, seperti banci atau bencong. Penulis queer juga sering kali terbebani dengan ekspektasi untuk merepresentasikan seluruh komunitas yang kemudian menjadi hambatan dalam proses kreatifnya. Akhil Katyal menambahkan mengenai pentingnya menulis dalam kapasitas sebagai pendengar. Selain itu juga pentingnya menulis mengenai hal-hal sesuai pengetahuan dan pengalaman kita, dan tidak mengambil peran atau suara orang lain yang tidak berbagi identitas dengan kita.

Kabar dari Book Rights Market JILF 2019

Salah satu program utama JILF adalah Book Rights Market atau Pasar Hak Cipta Buku yang mempertemukan penerbit-penerbit dari berbagai belahan dunia untuk bertukar wawasan dan mengadakan kerja sama dalam bentuk jual-beli hak cipta buku. Hari ini dua karya penulis Indonesia yang berjudul “Negara 5 Menara” karya Ahmad Fuadi dan “Saman” karya Ayu Utami-yang juga pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998—dibeli hak ciptanya oleh Prozart Media Publishing House, sebuah penerbit yang berasal dari Macedonia. Siang ini (22/8) telah dilangsungkan penandatanganan antara Penerbit Gramedia—yang menaungi dua karya tersebut—dengan Macedonia yang diwakili oleh Dejan Trajkoski (Direktur).

Kabar dari Ruang Sastra dan Komunitas

Komite JILF 2019 menginisiasi program Ruang Sastra dan Komunitas bukan hanya sebagai ‘ruang’ dalam artian meramu berbagai rangkaian acara, tetapi juga sadar akan kebutuhan ’ruang’ sebagai tempat fisik interaksi kultural dan wacana publik.

JILF 2019 bekerja sama dengan Laszlo Csutoras dan Melissa Liando membangun Ruang Sastra dan Komunitas berupa area ruang bundar di Plaza Teater Besar dengan tafsiran makna “Pagar” dalam tema besar JILF 2019 tahun ini. Malam ini Ruang Sastra dan Komunitas dimerahkan oleh penampilan musik apik oleh Sal Priadi.

Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang para pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah.

Festival sastra ini diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, talkshow bersama para penulis, pameran “Bacaan Liar”, laboratorium ekosistem sastra, pasar hak cipta, pasar buku, dan kegiatan komunitas.

Jakarta International Literary Festival 2019 terselenggara terutama berkat dukungan Pemda DKI Jakarta, Indonesiana – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bank BRI, Goethe Institut, Jakpro, Merdeka Coppergold, dan Kedutaan Besar Amerika. Festival ini juga didukung Asumsi.co, Beritagar.id, KBR, Harian Kompas, Magdalene.co, Power FM, Koran Tempo, Tempo.co, dan The Conversation sebagai rekanan media, serta sahabat festival Csutoras & Liando dan Yajugaya.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Para Pembicara:
Dapat dilihat di website kami: https://www.jilf.id/id/penulis/ 

 

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
Email: media@jilf.id
Telp: 0812-9817-7567