Press Release only available in Bahasa Indonesia

Jakarta, 22 Juni 2019 | Sebagai bagian dari Jakarta International Literary Festival 2019, diskusi sastra bertajuk “Kuasa dan Nuansa Gender dalam Sastra” diadakan di POST Bookshop, Jakarta (22/6). Diksuki yang menghadirkan dua penulis muda ini membahas bagaimana sastra seakan terpecah oleh gender.

Menjelang perhelatan sastra bertaraf internasional yang mengundang beberapa pelaku sastra dunia—Jakarta International Literarty Festival (JILF) 2019 oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dilangsungkan rangkaian diskusi pra-festival yang menghadirkan para penulis muda. Enam diskusi pra-festival tersebut mengangkat tema yang bersinggungan dengan tema besar festival—yaitu “Pagar”—yang diadakan berkala dari April-Agustus 2019.

Diksusi pra-festival kali ini adalah diskusi yang ketiga dengan tema Kuasa dan Nuansa Gender dalam Sastra yang diadakan di salah satu kantong sastra—POST Bookshop. Diskusi ini menghadirkan pembicara Amanatia Junda (Penulis dan Editor) dan Sabda Armandio (Penulis) dan dimoderatori Isyana Artharini (salah satu Kurator JILF 2019).

“Diskusi hari ini membahas tentang bias-bias gender dalam sastra. Tema ini juga akan diangkat dalam salah satu simposium yang ada dalam festival pada Agustus 2019 mendatang. Tema ini diangkat karena relevan dan penting, serta belum banyak belum dibahas dalam konteks perkembangan sastra di negara-negara selatan,” ujar Isyana Artharini (Kurator JILF 2019).

JILF 2019 akan dipenuhi dengan agenda simposium dengan mengangkat isu-isu penting dalam sastra, yaitu komoditas sastra, kuratorial yang diterapkan untuk masuk pasar global, dilema tema yang biasa diangkat dari negara-negara selatan, dan bias gender—yang terkait dengan diskusi pra-festival kali ini.

“Menurut saya, situasi-situasi sosial-politik-budaya belakangan ini di Indonesia membikin topik relasi kuasa dan nuansa gender tetap menjadi isu krusial untuk dibicarakan dalam forum-forum, tak terkecuali forum sastra,” ujar Amanatia Junda.

“Dalam urusan kepenulisan, sejujurnya, saya tidak memikirkan gender ataupun seksualitas. Bahkan dalam percobaan novel terakhir saya berusaha menghadirkan narator aseksual, yang malah terasa seperti paramesium yang punya fobia sosial,” ujar Sabda Armandio.

Perhelatan Jakarta International Literary Festival (JILF) 2019 hadir sebagai wadah pamer bagi para pelaku sastra Indonesia untuk benar-benar tampil di kancah internasional. Sampai saat ini, Komite Sastra DKJ melihat masih sedikit karya maupun penulis Indonesia yang menjadi perbincangan atau dibaca luas karyanya oleh pembaca sastra dunia.

“Perhelatan JILF ini menjadi salah satu ikhtiar terbesar kami untuk membantu karya sastra Indonesia memiliki suara penting dalam pergaulan internasional. Satu poin yang perlu digarisbawahi, memperbanyak penerjemahan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa lain sangat lah penting, makanya salah satu yang akan ada dalam festival ini adalah pasar hak cipta,” ujar Yusi Avianto Pareanom, Kurator JILF 2019 dan Ketua Komite Sastra DKJ.

Pasar Hak Cipta adalah jalan memperkenalkan judul-judul kesusastraan Indonesia agar mendapat akses lebih luas ke pembaca, baik dengan jalan diterjemahkan ke dalam bahasa asing ataupun dialihwahanakan ke dalam medium-medium kreatif yang sejalan dengan pemajuan ekonomi kreatif perindustrian buku Indonesia.

JILF 2019 dikuratori oleh Eka Kurniawan, Isyana Artharini, dan Yusi Avianto Pareanom. Mengusung “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Namun konsep pagar juga tidak selalu terikat dengan perlintasan batas-batas geografis sastra, akan tetapi juga mengandung makna perawatan dan pemeliharaan.

Festival sastra ini akan diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, pameran, lab ekosistem sastra, diskusi bacaan alternatif “Bacaan Liar”,  pasar hak cipta, dan Jakarta Award.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Pembicara Diskusi Pra-Festival #03

Amanatia Junda (@amanatia) adalah penulis dan editor di Penerbit Buku Mojok. Buku kumpulan cerpen pertamanya “Waktu untuk Tidak Menikah” terbit pada 2018. Setahun belakangan, bergabung dalam Perkawanan Perempuan Menulis yang tengah menyusun

kumpulan cerita mengenai ingatan perempuan pasca reformasi.

Sabda Armandio Alif (@armandioalif) adalah penulis muda yang muncul tak terduga. Dia hadir dengan novel pertamanya yang penuh humor ganjil, “Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya” langsung menjadi Novel Terbaik 2015 dari Majalah Rollingstone Indonesia. Novel keduanya, “Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif”, menjadi Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Selanjutnya, karya-karyanya yang menjanjikan berderet muncul. Dalam diskusi ini kita akan melihat bagaimana Dio memasukkan “kelamin” pada karyanya.

Narahubung:
Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
Email: media@jilf.id
Telp: 0812-9817-7567