Press Release Only Available in Bahasa Indonesia 

Pada hari ke-empat perhelatan Jakarta International Literary Festival 2019 digelar dua simposium yang mengusung tema “Melawan Bias” pada pukul 10:30 dan “Selatan Menatap Balik” pada pukul 13:30 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, serta satu talkshow bertajuk “Fiksi dan Kebenaran” pukul 16:00 di Ruang Sastra dan Komunitas, Plaza Teater Besar.

Pada simposium pertama diisi oleh Bejan Matur (Turki), Zainab Priya Dala (India), Saras Dewi (Indonesia) dan moderator Hera Diani mendiskusikan penulis perempuan, bias-bias pembaca, cara menghindari bias dalam sastra, serta karakteristik dan kategori ‘maskulin’ dan ‘feminin’ dalam sastra.

Zainab Priya Dala menyebutkan bahwa menjadi penulis perempuan tidak selalu mengenai identitas gender penulis sebagai perempuan, tapi juga suara yang dipakai dan karakter yang dibuat dalam tulisan yang dipersembahkan ke dunia. ZP Dala juga menekankan bahwa penulis perempuan sering diminta untuk mendekonstruksi identitas mereka sebagai penulis perempuan dan mendiskusikan apa tulisan feminin itu, namun penulis laki-laki tidak pernah diminta untuk mendekonstruksi maskulinitas, dan diskursus seperti ini tidak akan memajukan penulis perempuan. Saras Dewi berpendapat bahwa diskursus ini masih ada karena bias yang memang masih ada, dan akan berhenti ketika kita sudah mencapai kesetaraan dalam sastra.

Menurut Bejan Matur, sastra yang baik adalah sastra yang bisa menawarkan jawaban dan solusi atas masalah dan trauma kehidupan. ZP Dala, penulis yang juga psikolog, berargumen bahwa penulis tidak punya tanggung jawab untuk menawarkan jawaban untuk pembaca. Menulis adalah menulis, ketika penulis sudah mengeluarkan tulisannya, pemaknaan terhadap tulisan tersebut diserahkan pada pembaca. Ia juga menyebutkan bahwa menulis bisa menjadi sebuah proses kreatif yang therapeutic, tetapi ia menghindari berperan sebagai terapis untuk pembaca. Bejan Matur menambahkan bahwa menulis adalah aksi politis, karena tulisan bisa memberikan perspektif baru dan memiliki kekuatan untuk mengubah pembacanya.

Pada simposium kedua di hari ini, Akhil Katyal (India) dalam presentasinya mengatakan bahwa upaya untuk melepaskan pola pikir yang berpusat pada Utara akan menjadi sebuah sejarah panjang sendiri. Upaya ini harus diiringi dengan perubahan materi dalam segi sumber daya, sumber keuangan, dan pola arus kekuasaan. Akhil juga membahas geografi keterhubungan, baik yang tua maupun baru, antara Asia dan Afrika dan antara Asia Selatan dan Asia Tenggara, yang sering diabaikan ketika kosmopolitanisme dikira hanya berkembang di Eropa dan Amerika. Geografi keterhubungan antara negara-negara Selatan yang telah lama ada perlu ditemukan kembali, termasuk untuk impor budaya, dan bagaimana hidup bangsa negara-negara Selatan sangat saling terikat dan saling tertarik dalam karya satu sama lain.

Prabda Yoon (Thailand) menceritakan tentang kelangkaan sastra Thailand dalam penerjemahan. Ia menganggap bahwa Kementerian Kebudayaan Thailand sering menafsirkan kata “budaya” dalam namanya sebagai “tradisi” dan lebih suka menekankan pelestarian budaya yang lama daripada memberikan budaya yang baru kesempatan untuk berkembang di tempat lain. Tanpa banyak dukungan dan kurangnya rasa hormat dari pemerintah, sastra Thailand kontemporer pada umumnya bertahan hanya dengan kemandirian dan keberuntungan. Di sisi lain, ada masalah lain ketika perhatian datang: ketika kita berdebat tentang minat ‘internasional’ atau ‘global’ dalam sastra, biasanya kita menyiratkan pengakuan atau penerimaan pertama dan terutama oleh inteligensia bahasa Inggris, khususnya di AS. Seringkali sebuah karya dinilai memiliki daya tarik global bukan berdasarkan pada bagaimana karya dapat menceritakan tanah airnya kepada orang asing, tetapi seberapa ‘bersahabat’ karya dengan para pembaca potensial yang diharapkan, yaitu pasar Barat.

Zen Hae membacakan esainya yang membahas sastra sebagai perayaan perbedaan dan pluralisme. Membaca bukan lagi proyek kultural untuk menemukan kembali kekuatan estetik, tetapi kebenaran politik di dalam sebuah karya sastra. Kita harus membongkar relasi kuasa yang timpang di balik produksi karya sastra dan produk budaya umumnya. Jika selama ini kita memuliakan karya sastra dari kawasan Eropa dan Amerika Utara dan menjadikan mereka sebagai pusat penilaian kita terhadap sastra dunia, kini perhatian mestilah kita geser kepada karya-karya sastra dari wilayah-wilayah lain yang menjadi antipoda dari pusat-pusat itu.

Dalam talkshow sore santai di Ruang Sastra dan Komunitas, Plaza Teater Besar yang dipandu Linda Christanty, dengan menghadirkan pembicara Shenaz Patel (Mauritius) dan Faisal Tehrani (Malaysia), menceritakan bagaimana mereka menulis tentang komunitas-komunitas yang jarang didengar suaranya. Shenaz Patel menulis tentang orang-orang Chagos dan Faisal Tehrani menulis tentang kelompok Shia, LGBTIQ, dan kelompok-kelompok lain yang termarjinalkan di Malaysia.

Shenaz menyatakan bahwa ia menulis tidak hanya untuk membahas aspek geopolitis dari cerita yang ingin ia sampaikan, tetapi juga untuk menyampaikan pengalaman dan perasaan dari orang-orang dalam cerita tersebut. Shenaz, yang juga seorang jurnalis, tidak menulis untuk menyenangkan pembaca, ia menulis karena tidak puas dengan keadaan dunia yang sekarang dan menulis adalah salah satu caranya untuk membangun dunia yang ia inginkan. Faisal bercerita tentang tujuh bukunya yang dilarang untuk beredar di Malaysia akibat aktivitasnya dalam memperjuangkan HAM. Ia juga menyebutkan kurangnya solidaritas dari sesama penulis Malaysia karena ketakutan mereka atas risiko dipenjara karena melawan fatwa. Beberapa komunitas yang menawarkan dukungan kepada Faisal adalah komunitas penulis dari Singapura, serta penerbit indie Malaysia yang dibangun oleh generasi muda .

 Linda bertanya kepada kedua penulis bagaimana mengatasi fake news dan hoaks yang cepat sekali beredar di media sosial. Shenaz mengingatkan penonton untuk selalu cek akurasi dari berita, dan Faisal menyarankan untuk selalu menginterogasi siapa yang diuntungkan dan dirugikan dari penyebaran berita tersebut, dan untuk melihat dari perspektif pihak yang teropresi.

Teater Satu Lampung Pentas di JILF 2019

Terbentuk pada 1996 oleh Iswadi Pratama dan Imas Sobariah, Teater Satu Lampung adalah salah satu komunitas teater yang konsisten menghasilkan karya seni peran dengan melakukan pementasan-pementasan di seluruh Indonesia bahkan luar negeri, serta membuat workshop seputar teater. Pada 1999- 2000, dengan dukungan USAID, Teater Satu Lampung berhasil melakukan 50 kali pertunjukan teater rakyat dan modern di 50 kota di Provinsi Lampung. Di tahun 2017, Teater Satu Lampung melakukan pertunjukan keliling sebanyak 38 kali di Australia selama dua bulan.

Teater Satu Lampung mementaskan lakon “Jalan Yang Tak Ditempuh” yang disutradarai oleh Iswadi Pratama di Teater Kecil, TIM dalam rangka memeriahkan Ruang Sastra dan Komunitas JILF.

Mengenai Jakarta International Literary Festival 2019 

Komite Sastra DKJ menggagas festival sastra bertaraf internasional yang mengundang para pelaku sastra dunia.  Dengan proses kurasi dan pembangunan program yang baik, festival ini diharapkan akan menjadi penghubung Indonesia dengan sastra dunia.

JILF 2019 mengangkat “Pagar” sebagai tema sentral untuk mencerminkan batasan-batasan yang semakin lebur akibat arus globalisasi yang menerpa dunia. Selain sebagai sesuatu yang harus dilintasi, pagar juga berfungsi sebagai pelindung dan pemisah antara dunia luar dan ketenangan rumah. 

Festival sastra ini diadakan pada 20-24 Agustus 2019 di Taman Ismail Marzuki dengan mengundang penulis dan penerbit dari dalam dan luar negeri untuk mengisi rangkaian program JILF 2019. Program utama dalam festival ini adalah pidato kunci, simposium, talkshow bersama para penulis, pameran “Bacaan Liar”, laboratorium ekosistem sastra, pasar hak cipta, pasar buku, dan kegiatan komunitas.

Jakarta International Literary Festival 2019 terselenggara terutama berkat dukungan Pemda DKI Jakarta, Indonesiana – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bank BRI, Goethe Institut, Jakpro, Merdeka Coppergold, dan Kedutaan Besar Amerika. Festival ini juga didukung Asumsi.co, Beritagar.id, KBR, Harian Kompas, Magdalene.co, Power FM, Koran Tempo, Tempo.co, dan The Conversation sebagai rekanan media, serta sahabat festival Csutoras & Liando dan Yajugaya.

Seluruh program Jakarta International Literary Festival 2019 dapat diakses melalui situs www.jilf.id dan akun media sosial JILF (Instagram, Twitter, dan Facebook fan page).

Mengenai Para Pembicara:

Dapat dilihat di website kami: https://www.jilf.id/id/penulis/ 

 

Narahubung:

Dita Kurnia
Relasi Media JILF 2019
E: media@jilf.id
T: 0812-9817-7567